PMK Sebabkan Produktivitas Sapi Perah di Kabupaten Bandung Menurun Hingga 80 Persen
Imbas tertluranya sapi perah di Kabupaten Bandung menyebabkan produktivitas susu perah menurun hingga 80 persen
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Soreang - Produktivitas susu sapi perah yang terpapar virus penyakit mulut dan kuku (PMK) bisa menurun hingga 80 persen. Tak hanya itu saja, ternak yang terpapar virus ini, penyembuhannya (recoveri) memakan waktu hingga tiga tahun.
"Bahkan setelah sembuh pun penurunan produktivitas ini bisa permanen. Jadi memang PMK ini sangat merugikan bagi para peternak," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran di Soreang, Selasa 7 Juni 2022.
Menurut Tisna, hingga 6 Juni kemarin, data yang terimanya jumlah hewan ternak yang terpapar virus PMK di Kabupaten Bandung sudah mencapai 2.658 ekor. Terdiri dari 2031 ekor sapi perah, 618 sapi potong, 4 ekor kerbau dan 5 ekor domba. Kemudian ada jumlah hewan mati sebanyak 65 ekor dengan rincian 5 ekor sapi potong, 60 ekor sapi perah. Sedangkan ternak yang dipotong sebanyak 47 ekor.
Baca Juga: Pemkot Bandung Intensif Tangani PMK
"Untuk ternak yang sembuhnya sekitar 23 persen atau sama dengan 629 ekor. Itu artinya masih banyak yang sembuh perbandingannya," ujarnya.
Tisna menakui jika hasil monitoring lapangan, peningkatan suspek ternah yang terpapah virus PMK di Kabupaten Bandung ini tergolong cepat. Dari semulai hanya 14 kasus dalam kurun waktu sebulan melonjak hingga 2.600 an lebih suspek. Penyebaran virus PMK ini memang sangat cepat, penyebarannya bisa terjadi karena terbawa angin, dibawa manusia, kendaraan dan lainnya.
"Ini memang perlu penanganan serius, kami juga sudah mengajukan pengadaan antibiotik dan vitamin kepada Kementian Pertanian. Tapi masih dalam proses, karena ada administrasi yang harus diselesaikan," katanya.
Baca Juga: Tunggu Perwal, Disdagin Kota Bandung Pastikan Relaksasi Bidang Ekonomi Kian Terbuka
Sedangkan untuk pengadaan vaksin, jelas Tisna, pihaknya juga telah mengajukan permohonan sebanyak 19 ribu ampuls vaksin. Berdasarkan informasi dari Dirjen di Kementerian Pertanian, vaksin tersebut akan datang dan bisa diaplikasikan pada awal Juni ini. Jumlah ini tidak termasuk yang diajukan oleh Ultra Peternakan Bandung Selatan (UPBS) sebanyak 19500 ampuls, sedangkan Koperasi Susu Bandung Selatan (KPBS) mengajukan sebanyak 13 ribu ampuls.
"Selain pengajuan vaksin, kami juga akan segera melakukan rapat koordinasi dengan stake holder lainnya. Termasuk dengan forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda). Guna membahas kemungkinan penggunaan anggaran BTT. Karena ini sudah masuk kriteria mendesak. Meskipun tidak menular kepada manusia, tapi ini berakibat kepada perekonomian," katanya.(rd dani r nugraha).
Editor : inilahkoran


