Bawang Rawan Bandung Waspada
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
INILAH, Bandung - Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan, meja makan warga Bandung menghadapi tantangan yang tak selalu terlihat. Di balik ramainya pasar dan geliat industri kuliner, ada rantai pasok pangan yang harus tetap bergerak agar harga tidak ikut melonjak.
Pemerintah Kota Bandung kini mewaspadai kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Bawang menjadi salah satu yang mendapat perhatian khusus karena pasokannya rentan terganggu, sementara kebutuhan masyarakat cukup tinggi.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, bawang merah termasuk komoditas sensitif karena sentra produksinya terbatas. Kota Bandung, kata dia, memiliki permintaan tinggi terhadap bawang yang dipasok dari Brebes.
“Memang bawang, karena produsennya terbatas. Permintaan warga Bandung terhadap bawang Brebes sangat tinggi,” kata Farhan, Senin (10/8).
Permintaan tersebut tidak hanya datang dari rumah tangga. Sebagai kota wisata dan kuliner, Bandung membutuhkan bawang dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan restoran, hotel, rumah makan, hingga usaha kuliner skala kecil.
“Banyak untuk wisata dan industri kuliner. Jadi permintaan bawang Brebes ini tinggi sekali,” ujarnya.
Di saat kebutuhan tinggi, kekeringan di sejumlah daerah menjadi persoalan yang ikut diperhitungkan. Perubahan cuaca dan kondisi lahan produksi dapat memengaruhi hasil panen, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pasokan dan harga di pasar.
Selain bawang merah, Pemkot Bandung juga memantau ketersediaan bawang putih dan bawang bombai. Sebagian pasokan kedua komoditas tersebut berasal dari luar daerah, bahkan impor, sehingga rantai pasoknya memiliki tantangan tersendiri.
Farhan mengatakan, berdasarkan hasil konsultasi dengan Gubernur Jawa Barat, kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober. Pemerintah berharap kondisi tersebut tidak mengganggu masa tanam yang mulai berlangsung pada September.
“Kekeringan diperkirakan terjadi sampai Oktober. Musim tanam mulai September,” katanya.
Di tengah ancaman tersebut, pemerintah mencoba menjaga agar jalur pasokan pangan tetap terbuka. Pemkot Bandung memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian, sementara Dinas Ketahanan Pangan diarahkan memastikan bahan makanan segar terus masuk dari berbagai daerah.
Pasokan itu berasal dari 16 provinsi, ditambah sejumlah komoditas impor. Seluruhnya diarahkan melalui tiga pasar induk utama yang menjadi simpul penting distribusi pangan di Kota Bandung.
“Kami memastikan suplai bahan makanan segar dari 16 provinsi dan bahan impor bisa masuk melalui tiga pasar induk utama,” ujar Farhan. (gin)
Editor : Inilahkoran


