Belajar Industri Siap Mandiri

LULUSAN SMK tak cukup hanya terampil. Mereka harus siap menghadapi dunia kerja.

Belajar Industri Siap Mandiri
SEKOLAH VOKASI: Upaya mencetak lulusan siap kerja, terus digenjot Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Salah satunya melalui penguatan kemitraan antara sekolah vokasi dan pelaku industri, yang menjadi pengguna utama tenaga kerja terampil. Sebanyak 32 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Jawa Barat resmi menjalin kerja sama dengan 64 perusahaan dari berbagai sektor usaha.

Oleh : Yuliantono

Seragam sekolah belum tentu menjadi tanda seseorang siap memasuki dunia kerja. Di balik keterampilan yang dipelajari di ruang praktik, ada satu hal yang tak kalah penting: seberapa dekat pengalaman siswa dengan dunia kerja yang sesungguhnya.

Kebutuhan itulah yang coba dijawab Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui penguatan kemitraan antara sekolah vokasi dan pelaku industri. Sebanyak 32 SMK Negeri di Jawa Barat kini menggandeng 64 perusahaan dari berbagai sektor usaha.

Kerja sama tersebut difasilitasi Dinas Pendidikan Jawa Barat dan ditandatangani di SMKN 1 Setu, Kabupaten Bekasi, baru-baru ini. Kemitraan itu diarahkan untuk mempersempit jarak antara kompetensi yang dimiliki lulusan SMK dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja yang terus berubah.

Bidang yang terlibat pun cukup beragam. Mulai dari bisnis dan manajemen, pariwisata, teknologi manufaktur dan rekayasa, teknologi informasi, otomotif, hingga seni dan ekonomi kreatif.

Bagi Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto, kedekatan dengan industri bukan lagi sekadar pilihan bagi pendidikan vokasi. Kolaborasi justru menjadi kebutuhan agar sekolah mampu memberikan pengalaman yang relevan kepada siswa.

“Keterbatasan sekolah itu hanya bisa diatasi dengan kolaborasi. Saya berterima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang bersedia menjadi living lab bagi anak-anak kita,” ujar Purwanto.

Perusahaan, kata dia, bukan hanya tempat siswa menjalani praktik kerja. Lebih dari itu, lingkungan industri dapat menjadi ruang belajar nyata untuk mengenal budaya kerja, teknologi terkini, sekaligus standar kompetensi yang berlaku di lapangan.

Siswa pun tidak hanya berhadapan dengan teori dan mesin praktik di sekolah. Mereka bisa melihat secara langsung bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan, bagaimana target dikejar, bagaimana teknologi digunakan, dan bagaimana tanggung jawab menjadi bagian dari rutinitas.

Karena itu, Purwanto mendorong kepala sekolah untuk tidak berhenti pada kerja sama yang sudah terjalin. Jaringan kemitraan perlu terus diperluas, termasuk dengan perusahaan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), maupun komunitas yang sesuai dengan bidang keahlian masing-masing sekolah.

Kemitraan tersebut juga diharapkan membuka lebih banyak kesempatan praktik kerja bagi siswa. Pada saat yang sama, praktisi industri dapat hadir di sekolah untuk berbagi pengalaman dan memberikan gambaran tentang tuntutan dunia kerja yang tidak selalu ditemukan dalam buku pelajaran. (gin)


Editor : Inilahkoran