BPOM Temukan 27 Ribu Produk Pangan Ilegal Jelang Lebaran, Ada Milo hingga Old Town
puluhan ribu produk pangan olahan tanpa izin edar selama pengawasan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menemukan puluhan ribu produk pangan olahan tanpa izin edar selama pengawasan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Dalam periode pemeriksaan 27 Februari hingga 5 Maret 2026, tercatat sebanyak 27.407 produk pangan yang tidak memiliki izin edar resmi.
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, mengatakan peningkatan temuan ini terjadi seiring naiknya konsumsi makanan dan minuman kemasan selama bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran.
“Terjadi lonjakan konsumsi pangan olahan selama Ramadan dan Idul Fitri, termasuk pangan olahan terkemas yang ternyata memiliki izin edar ilegal,” kata Taruna dalam konferensi pers, Rabu (11/3/2026).
Produk Impor Mendominasi Temuan
Dari hasil pengawasan BPOM, sekitar 70 persen produk ilegal yang ditemukan berasal dari Malaysia. Beberapa merek yang cukup populer di masyarakat, seperti Milo dan Old Town, termasuk yang paling banyak ditemukan dalam peredaran tanpa izin resmi.
Selain Malaysia, produk tanpa izin edar juga banyak berasal dari negara lain. Singapura menempati posisi kedua dengan kontribusi sekitar 11,3 persen dari total temuan.
Sementara itu, produk asal China tercatat mencapai 10,4 persen atau sekitar 757 produk, disusul Thailand dengan 2,2 persen atau sekitar 163 produk.
BPOM Ingatkan Risiko Produk Ilegal
Taruna menegaskan bahwa produk pangan yang beredar tanpa izin resmi berpotensi membahayakan konsumen karena tidak melalui proses pengawasan keamanan yang ketat.
Menurutnya, produk yang masuk melalui jalur tidak resmi tidak bisa dipastikan kualitas maupun keasliannya. Selain itu, produk tersebut juga berisiko terkontaminasi atau mengandung bahan berbahaya.
BPOM pun mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat membeli makanan dan minuman kemasan, terutama menjelang Lebaran ketika permintaan pangan meningkat tajam.
Editor : Firda Rachmawati


