Debu Mengambang, Udara Bandung Barat Diawasi

UDARA Bandung Barat sempat memburuk dalam beberapa hari terakhir. Debu yang muncul masih menunggu kepastian asal.

Debu Mengambang, Udara Bandung Barat Diawasi
KUALITAS UDARA: Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH KBB, Gentarez Wara Nainggolan menjelaskan kualitas udara di Kabupaten Bandung Barat.

Oleh: Agus Satia Negara

Debu berwarna cokelat hingga keabu-abuan belakangan menarik perhatian warga Kabupaten Bandung Barat. Bukan sekadar debu jalanan yang beterbangan, material halus itu muncul bersamaan dengan meningkatnya konsentrasi partikulat di udara.

Dugaan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pun mencuat. Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa debu tersebut benar-benar berasal dari aktivitas vulkanik.

Di tengah laporan warga itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat memperketat pemantauan kualitas udara. Kondisi udara dipantau melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) yang terpasang di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Alat tersebut bekerja memantau kualitas udara secara otomatis dan terintegrasi. Dari rekaman secara real-time, kualitas udara yang sempat memburuk dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan perbaikan.

Pada Rabu (9/9) pukul 09.00 WIB, indeks kualitas udara berada di angka 60 atau masuk kategori sedang. Angka itu lebih rendah dibandingkan kondisi pada dini hari pukul 03.00 WIB yang masih mencatat konsentrasi partikulat halus PM2,5 sebesar 64.

Sehari sebelumnya, Selasa (8/9), indeks kualitas udara bahkan sempat mencapai angka 65. Padahal, dua hari sebelumnya kondisi udara masih relatif lebih baik.

Pada Senin (7/9) pukul 11.00 WIB, kadar PM2,5 tercatat 40 mikrogram per meter kubik dan masih berada dalam kategori baik.

Perubahan angka tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan laporan warga mengenai debu yang tampak berbeda dari biasanya.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH KBB, Gentarez Wara Nainggolan, mengatakan pihaknya memang mencatat adanya peningkatan partikulat PM2,5 dan PM10.

Namun, peningkatan itu belum serta-merta dapat disimpulkan sebagai dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau.

DLH mencatat adanya lonjakan partikulat PM2,5 PM10 yang beriringan dengan laporan warga mengenai tumpukan debu yang terlihat berbeda dari debu jalanan biasa, namun pihaknya belum memastikan 100 persen berasal dari aktivitas vulkanik dan masih menunggu hasil uji laboratorium,” kata Gentarez, Kamis (10/9).

Di balik angka-angka yang terus bergerak pada layar pemantauan, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab: dari mana debu tersebut berasal? DLH belum ingin terburu-buru menarik kesimpulan. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan karakteristik material yang ditemukan warga sekaligus mengetahui apakah memang terdapat kaitan dengan aktivitas vulkanik.

(gin)


Editor : Inilahkoran