Derita Emak Anah Warga Bojongkoneng KBB Tinggal di Gubuk yang Sebagian Sudah Terkena Longsor

Emak Anah hanya bisa pasrah tinggal di gubung yang sebagian tanahnya sudah longsor walaupun maut mengintainya

Derita Emak Anah Warga Bojongkoneng KBB Tinggal di Gubuk yang Sebagian Sudah Terkena Longsor
Diusianya yang sudah senja Emak Anah tinggal di sebuah gubuk yang nyaris roboh di Bjongkoneng KBB.

 

INILAHKORAN, Ngamprah - Di usianya yang sudah senja,  Emak Anah (80) masih harus bergulat dengan kerasnya kehidupan di Desa Bojongkoneng, Ngamprah KBB.

Di tengah kondisinya yang kerap sakit-sakitan, Emak Anah ibu satu anak ini tetap sabar dan ikhlas menjalani hidup di sebuah rumah yang sebagiannya sudah roboh akibat amblasnya tembok penahan tanah (TPT).

Emak Anah diketahui merupakan warga Kampung Pasir Saleum RW 15, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).  Dia tinggal di rumah tak layak huni berukuran 4x5 meter dan berdempetan dengan kandang kambing.

Baca Juga: Masuki Tahap Verifikasi, Tim Penjaringan Hanya Dapati 7 Balon Ketum KONI KBB

Ironisnya, kondisi dalam rumahnya lebih memperihatinkan dibanding kondisi luar rumahnya. Pasalnya,  Lantai beralaskan tanah, atap kerap bocor. Tak ayal, jika turun hujan, airnya masuk ke melalui sela-sela genting yang sudah rusak.

Tak cukup sampai di situ, aroma kambing pun tercium pekat, menusuk hidung, terlebih saat berada di dalam rumah.

Meski bau tersebut membuat mual, namun bagi mereka aroma tersebut sudah bersahabat dengan penciumannya dan tak begitu dihiraukan.

Baca Juga: Kinerja ASN di KBB Terhambat, BKPSDM Sebut Rotasi dan Mutasi Solusinya

"Saya sudah puluhan tahun tinggal di rumah itu bersama sang anak yang kini berusia (60). Sementara suami sudah lama pergi mendahului dipanggil sang Khaliq," ujarnya.

Getir kehidupan Anah, rumah tak layak huni, harus juga ditimpa musibah. Sebab, dapur miliknya luluh lantah tak tersisa akibat TPT amblas pada April 2022 lalu, sekitar pukul 02.00 WIB.

Kondisi rumah yang nyaris roboh tak mengurungkan Anah dan anaknya untuk pergi meninggalkan rumahnya.

Baca Juga: Kunjungi Rongga KBB, Wagub Jabar Minta Swasta Ikut Dukung Penanganan PMK

Ia mengaku, kerap dihantui rasa takut saat berada di dalam rumah. Namun, dirinya tetap ikhlas jika di kemudian hari rumah satu-satunya benar-benar roboh seluruhnya.

“Kejadiannya jam 2 Subuh pas bulan puasa, nga-gebrug tarik. Mau gimana lagi, ini musibah untuk emak, iklas emak mah,” ungkapnya saat ditemui.

Ia menuturkan, dirinya berprofesi sebagai buruh tani serabutan dengan upah hanya Rp30 per hari. Menurutnya, pendapatan tersebut hanya cukup untuk biaya sehari-hari.

Baca Juga: Diancam Bakal di PTUN-kan Jika Lakukan Ini, Begini Jawaban Tegas KONI KBB

“Pendapatan segitu hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari. Mungkin rumah gini aja nunggu sampai ambruk,” tuturnya.

Ia mengaku, pasca ambruknya TPT yang merobohkan dapurnya, pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Bojongkoneng datang melihat kondisi rumahnya. Namun hingga kini, bantuan yang pernah dijanjikan oleh Pemdes tak kunjung datang.

“Iya datang, bilangnya nanti aja Syawal dibenerinnya. Tapi sampai sekarang belum ada, jadinya mau gimana lagi memang mungkin harus begini kondisi rumah emak. Emak gak bisa memaksakan kehendak,” tandasnya.*** (agus satia negara).

 

 


Editor : inilahkoran