DPRD Jabar Wanti-wanti Gaya ‘Koboy’ Dedi Mulyadi
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, George Edwin Sugiharto mewanti-wanti gaya 'koboy' kepimpinan Gubernur Dedi Mulyadi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, George Edwin Sugiharto mewanti-wanti gaya 'koboy' kepimpinan Gubernur Dedi Mulyadi.
George mengatakan, Dedi Mulyadi memiliki kelebihan dalam membaca dinamika sosial masyarakat. Menurutnya, respons cepat gubernur kerap dibutuhkan, ketika persoalan di lapangan membutuhkan solusi instan.
Namun, George mengingatkan bahwa kecepatan dalam mengambil kebijakan tetap harus ditopang tata kelola administrasi pemerintahan yang kuat. Sebab, kebijakan tanpa fondasi hukum dinilai dapat memunculkan persoalan baru di kemudian hari.
George mencontohkan salah satu respons cepat Dedi Mulyadi, ketika menerima laporan mengenai sebuah sekolah yang memiliki 356 murid, namun hanya ditunjang tiga ruang kelas. Saat itu, kata dia, Dedi langsung memerintahkan Dinas Pendidikan untuk menambah ruang belajar hingga akhirnya jumlah kelas bertambah menjadi enam.
"Kadang-kadang Gubernur kita ini cepat tangggap. Ya ini, administrasinya kadang-kadang enggak bisa dicapai," ujar George di Kota Bandung baru-baru ini.
Ia menegaskan, langkah cepat seorang kepala daerah memang kadang dibutuhkan, terutama saat masyarakat membutuhkan penyelesaian masalah secara segera. Namun di sisi lain, birokrasi tidak boleh ditinggalkan, karena menjadi instrumen penting agar kebijakan berjalan aman secara administratif maupun hukum.
Sebab itu, George mengaku telah menyampaikan langsung masukan kepada Dedi Mulyadi agar setiap keputusan strategis tetap memperhatikan kesiapan birokrasi dan dasar regulasi.
"Saya sudah sampaikan ke Pak Gubernur. Tujuan Pak Gubernur bagus, tapi birokrat ini juga harus diajak selamat. Jangan sampai keputusannya ada, tapi landasan hukumnya tidak ada," ucapnya.
Dalam pandangannya, gaya kepemimpinan Dedi saat ini cenderung agresif dan berani mengambil keputusan cepat. Bahkan, George menyebut pendekatan tersebut sebagai gaya “koboy”. Meski begitu, ia tidak sepenuhnya mempersoalkan pola kepemimpinan tersebut karena dalam kondisi tertentu justru dibutuhkan untuk mempercepat penyelesaian persoalan di Jawa Barat.
"Gubernur sekarang memang rada koboy, tapi memang perlu dikasih tahu juga ada batasannya," katanya.
George mengingatkan pentingnya keseimbangan, antara keberanian mengambil keputusan dan kemampuan menjaga birokrasi. Ia menyinggung pengalaman Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang menurutnya menghadapi situasi politik sulit, didukung dan kemudian dilengserkan oleh pendukungnya sendiri.
"Jadi memang kadang-kadang, untuk memahami seorang pemimpin, kita perlu melihat dari berbagai sudut pandang. Tapi memang saya sebagai anggota DPRD, juga mengakui ada kelebihannya (Dedi Mulyadi), tapi ada juga yang masih perlu diperbaiki," katanya.
Meski demikian, ia meyakini baik legislatif maupun eksekutif memiliki tujuan yang sama, untuk membangun Jawa Barat.
"Kadang-kadang kita suka lupa. Bukan hanya KDM, kita juga suka lupa. Paling penting, niat kita membangun Jawa Barat," tandasnya.***
Editor : JakaPermana


