Farhan Bakal Cari Solusi Bagi Warga Tolak Pemindahan Terminal Cicaheum
Rencana pemindahan Terminal Cicaheum yang menjadi bagian dari proyek bus rapid transit (BRT) Kota Bandung, mendapat penolakan dari warga sekitar. Kekhawatiran warga, terutama terkait hilangnya mata pencaharian bagi pedagang kaki lima (PKL), jukir dan pemilik toko di sepanjang jalur terminal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Rencana pemindahan Terminal Cicaheum yang menjadi bagian dari proyek bus rapid transit (BRT) Kota Bandung, mendapat penolakan dari warga sekitar. Kekhawatiran warga, terutama terkait hilangnya mata pencaharian bagi pedagang kaki lima (PKL), jukir dan pemilik toko di sepanjang jalur terminal.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan, pemerintah kota tetap melanjutkan rencana tersebut. Namun ia menyebut, langkah ini harus dibarengi dengan sosialisasi intensif dan solusi bagi warga terdampak.
“Memang pekerjaan rumah kita sekarang adalah melakukan sosialisasi. Coba kita dengarkan dulu aspirasi masyarakat seperti apa. Kalau memang ternyata konsepnya nanti bisa menjadi feeder, insya Allah bisa,” kata Farhan, Sabtu 13 Desember 2025.
Ia menjelaskan, sistem feeder yaitu angkutan kota yang terintegrasi dengan BRT dimana saat ini tengah diuji coba dengan hasil awal cukup positif. “Kalau bagus, kita akan tambah armada baru yang menggunakan sistem feeder yang sama. Kan daerah timur sudah dicoba. Sekarang dari daerah barat, dari Hussein menuju ke Alun-Alun Bandung,” ucapnya.
Sistem ini, diharapkan pihaknya mempermudah mobilitas warga tanpa mengurangi akses ke pusat kota.
Namun, masalah terbesar bukan hanya soal transportasi. Kehidupan ekonomi warga terdampak, menjadi perhatian utama. Pemerintah akan mencari titik relokasi bagi PKL, dan jukir agar tetap bisa beraktivitas ekonomi.
“Kalau sampai dipindahkan kan sepi, enggak ada yang beli. Tapi tidak mungkin, TOD itu enggak ada tempat orang ngumpul. Kita akan melihat peluang menempatkan UKM di situ,” ujar dia.
Selain itu dikemukakan ia, permasalahan juga muncul di sepanjang jalur BRT lainnya. Terutama bagi toko-toko yang berada dekat halte. “Kalau orang enggak boleh berhenti, bagaimana? Itu masalahnya,” tuturnya.
Farhan menyebut, sebagian besar halte BRT akan ditempatkan di sisi kiri dan kanan jalan. Sementara halte di tengah hanya ada di Ciroyom dan Pasar Baru. Kekhawatiran muncul, karena halte di pinggir jalan berpotensi menghalangi akses toko-toko dari Asia Afrika hingga Otista.
“Kita mesti menghitung banget, apakah cost-benefitnya bagaimana,” ujar dia.
Meski menghadapi tantangan, pihaknya menegaskan tetap berkomitmen menjalankan BRT sambil menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Strategi yang ditempuh meliputi sosialisasi, percobaan sistem feeder dan relokasi pedagang ke titik TOD yang strategis. Sehingga transportasi publik, dan kehidupan ekonomi warga dapat berjalan bersamaan.***
Editor : JakaPermana

