Iftahni Jayanti Sosok Inspiratif yang Gratiskan Sekolah Inklusi untuk Anak-anak Disabilitas di Jendela Ibu
Berawal dari kesulitan menyekolahkan kedua anaknya yang mengalami disabilitas cerebral palsy, Iftahni Jayanti mendirikan lembaga sosial Jendela Ibu pada 2002 silam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Berawal dari kesulitan menyekolahkan kedua anaknya yang mengalami disabilitas cerebral palsy, Iftahni Jayanti mendirikan lembaga sosial Jendela Ibu pada 2002 silam.
Setelah hanya menjadi lembaga sosial, pada 2023 lalu lembaga sosial itu resmi menjadi yayasan. Pada 2025 ini, Jendela Ibu memperluas aksi sosialnya dengan membuka Rumah Tumbuh Kembang dan Sekolah Inklusi Jendela Ibu.
Sebanyak 40 hingga 100 anak-anak disabilitas pun kini bisa terapi dan sekolah inklusi dengan gratis. Langkah ini tentunya menjadi angin segar bagi orang tua anak disabilitas yang status sosialnya terbilang kurang mampu
Iftahni Jayanti menuturkan, setiap anak disabilitas membutuhkan perlakuan istimewa karena kemampuan setiap anak disabilitas berbeda-beda.
Ketika orang tua anak disabilitas mendaftar, sang anak istimewa pun dianalisa atau asesmen tingkat disabilitasnya. Lalu dibuatkan program sesuai kebutuhan anak-anak istimewa tersebut.
Standar pelayanan tersebut, biasanya berlangsung di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang swasta dan semi internasional kurikulumnya.
"Sebelum diterapi dan sekolah inklusi, anak-anak disabilitas kami asesmen lalu setelah itu dibuatkan program therapis dan sekolah inklusinya," tutur Iftahni Jayanti kepada wartawan, Kamis 18 Desember 2025.
Founder dan CEO Jendela Ibu itu menjelaskan jika anak disabilitas memiliki kemampuan sosialisasinya cukup baik, maka akan dimasukkan ke dalam kelompok classical.
Sementara, anak disabilitas yang kemampuan sosialisasinya kurang, maka akan dimasukkan ke dalam kelompok privat.
Kedua kelompok tersebut, sebelum menjalani sekolah inklusi diterapi terlebih dahulu selama satu jam agar anak disabilitas membaik emosionalnya, menstimulasi kecerdasan dan menstimulasi kemandirian.
"Kalau anak disabilitas yang masuk ke dalam kelompok classical, jam belajar sekolah inklusinya dua jam. Sedangkan yang ada di kelompok privat, sekolah inklusinya satu jam," jelas Iftahni Jayanti.
Selain terapi dan sekolah inklusi, anak disabilitas dan orang tuanya juga diberikan pelatihan ketrampilan membuat handycraft, membatik, dan menjahit pakaian.
Hasil dari produknya pun dijual di pameran-pameran yang mereka ikuti maupun toko online, hingga dari hasil penjualan itu, bisa membantu biaya operasional, dan keluarga anak disabilitas pun bisa mendapatkan tambahan penghasilan.
"Alhamdulillah, tak hanya mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan produk UMKM, tetapi juga melatih kemandirian anak-anak disabilitas," lanjutnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor Agus Salim menyambut baik Yayasan Jendela Ibu dan berharap bisa ditiru lembaga sosial dan yayasan lainnya.
Pemkab Bogor, terangnya, dengan adanya Perda disabilitas bisa mendukung penuh yayasan atau lembaga sosial. Apalagi pemerintah daerah, butuh mereka untuk mengurus 7.000 jiwa penyandang disabilitas.
"Mari kita menjadi mahluk sosial, yang peduli kepada saudara-saudara kita yang istimewa dan membutuhkan uluran kita sebagai saudara-saudaranya. Insyaallah, kalau yang beragama Islam maka pahalanya sebanding dengan ibadah itikaf di Masjid Nabawi selama satu bulan," ucapnya.
Sedangkan, Plt Camat Ciawi Denny Kuswara mengaku sangat mendukung keberadaan Yayasan Jendela Ibu di wilayahnya. Terlebih, anak-anak disabilitas yang menjalani terapi dan sekolah di situ tak hanya berasal dari Kabupaten Bogor, tetapi juga dari Kabupaten Sukabumi dan Kota Bogor.
"Kami sangat mendukung dan siap menjembatani dengan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) terkait, terkait ijin produk, hingga sertifikasi produk UMKM hingga dilibatkan dalam pameran yang berlangsung di Kecamatan Ciawi," tukas Denny Kuswara.
Editor : Doni Ramdhani


