Ini Alasan Kenapa Bandung Raya Harus Segera Miliki Transportasi Massal Terintegrasi

Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin mengungkapkan alasan, kenapa Bandung Raya harus segera memiliki transportasi massal terintegrasi.

Ini Alasan Kenapa Bandung Raya Harus Segera Miliki Transportasi Massal Terintegrasi
Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin

INILAHKORAN, Bandung - Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin mengungkapkan alasan, kenapa Bandung Raya harus segera memiliki transportasi massal terintegrasi.

Bey Machmudin mengungkapkan dari hasil kajian Urban Mobility Plan 2020 silam, pergerakan masyarakat Bandung Raya mencapai 16.737.436 perjalan tiap hari.

Maka dari itu, seminar ini menurutnya sangat relevan dengan tantangan transportasi di Bandung Raya saat ini. Bagaimana harus membangun sistem transportasi yang efektif, efisien dan ramah lingkungan.

"Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, Jawa Barat merasakan betul urgensi dalam. Pertumbuhan penduduk yang pesat, membawa implikasi besar terhadap kebutuhan transportasi yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan," ujar Bey Machmudin dalam Seminar Nasional Masyarakat Transportasi Indonesia, bertajuk Arah Kebijakan Transportasi Nasional dan Penguatan Angkutan Umum Perkotaan di Indonesia di Aula ITB, Senin 14 Oktober 2024, .

Volume lalu lintas yang selalu meningkat tiap tahun, hingga 15 persen kata dia kian krusial lantaran penggunaan moda transportasi umum masih sedikit.  Dimana rinciannya 10 persen menggunakan transportasi umum, 60 persen menggunakan sepeda motor pribadi dan 30 persen mobil pribadi.

"Maka dari itu, pergerakan yang masif ini perlu didukung oleh layanan transportasi umum yang terintegrasi seperti BRT, LRT maupun Cable Car yang akan diproyeksikan di Jawa Barat," ucapnya.

Maka dari itu, pihaknya menyambut baik seminar nasional ini sebagai wadah bagi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait, untuk merumuskan langka konkret membenahi sistem transportasi publik.

"Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat terus berupaya melakukan berbagai inovasi, dalam sistem transportasi, termasuk mendorong konsep Seamless  Connectivity dalam Transportasi yang dapat diartikan sebagai integrasi dan kelanjutan transportasi yang terpadu," imbuhnya.

Antaranya pengembangan Bus Rapid Transit (BRT), angkutan massal berbasis rel, integrasi antar moda, peningkatan kapasitas jalan, jalur pedestrian dan sepeda.

BRT dengan panjang jalur 21,7 kilometer yang memiliki 21 rute, diharapkan mampu melayani sekitar 250 ribu penumpang setiap hari.

"Selain itu BRT juga akan terintegrasi dengan Stasiun Kereta Cepat," tuturnya.

Commuter Line Bandung Raya, dengan total 13 stasiun dimulai dari Stasiun Cicalengka - Stasiun Padalarang yang akan di elektrifikasi. Perkeretaapian perkotaan, dengan delapan jalur yang
menghubungkan titik-titik di Kota Bandung dan daerah sekitar Kota Bandung.

"Multi Purposed, dengan dua stasiun yaitu Stasiun Padalarang - Stasiun Cikudapateuh. Reactivation Railways, yaitu jalur Rancaekek - Tanjungsari, Padalarang - Cipatat, Kiaracondong - Ciwidey dan Dayeuhkolot - Majalaya," lanjutnya.

Kemudian High Speed Rail Stasiun Padalarang - Stasiun Tegalluar yang terintegrasi dengan rute BRT dan Stasiun. Kereta Gantung atau Cable Car, dengan empat rute perjalanan.

"Namun, kami sadar bahwa keberhasilan kebijakan transportasi tidak hanya ditentukan oleh pemerintah daerah, melainkan juga membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah pusat, swasta dan masyarakat," kata Bey Machmudin.

Tantangan lainnya kata dia, adalah bagaimana mengubah kebiasaan masyarakat dari penggunaan kendaraan pribadi ke angkutan umum.

"Kita butuh usaha ekstra untuk mengubah pola pikir masyarakat dan meningkatkan kualitas layanan transportasi umum sehingga ini dapat terwujud," ucapnya.

Dia berharap, melalui seminar ini, dapat terjalin sinergi yang lebih kuat antara seluruh pihak terkait, sehingga kebijakan transportasi yang dirumuskan dapat benar-benar menjadi solusi yang efektif dan menjawab kebutuhan masyarakat. ***


Editor : Ahmad Sayuti