Jejak Panjang Pramuka Mengabdi
PRAMUKA tak berhenti pada barisan dan upacara.Memasuki usia 65 tahun, gerakan ini terus didorong untuk hadir menjawab kebutuhan masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Rizki Mauludi
Lapangan Sempur menjadi ruang berkumpul para anggota Pramuka Kota Bogor pada Selasa (18/8). Dalam Apel Besar Hari Pramuka ke-65, semangat pengabdian kembali ditegaskan sebagai bagian penting dari perjalanan Gerakan Pramuka.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menjadi pembina apel. Di hadapan peserta, ia menyerahkan sejumlah penghargaan, mulai dari Tanda Gerakan Pramuka, Gugus Depan Tergiat, Satgas Pelopor Peduli Lingkungan, hingga sertifikat Akreditasi Gugus Depan.
Ada pula penyerahan bibit tanaman dari pimpinan Satuan Karya Kalpataru Nasional serta bantuan kursi roda. Ragam kegiatan itu menjadi gambaran, Pramuka tidak hanya berbicara tentang kegiatan di lapangan, tetapi juga tentang kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat.
Namun, suasana peringatan kali ini juga diwarnai duka. Dedie menyampaikan belasungkawa atas gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Utara.
“Duka masyarakat Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Utara adalah duka kita bersama. Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, serta seluruh masyarakat terdampak diberikan kekuatan dan kemudahan dalam melewati masa sulit ini,” kata Dedie.
Memasuki usia 65 tahun, Gerakan Pramuka dinilai telah melewati perjalanan panjang dalam membentuk generasi muda. Disiplin, kemandirian, tanggung jawab, karakter, dan kecintaan terhadap tanah air menjadi nilai yang terus diwariskan.
“Nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma harus terus menjadi landasan dalam menghadapi perubahan zaman sekaligus menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045,” tutur Dedie.
Tahun ini, Hari Pramuka ke-65 dan Jambore Nasional XII mengusung tema Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.
Tema tersebut membawa Pramuka lebih dekat dengan persoalan nyata. Swasembada pangan tidak hanya membutuhkan produksi, tetapi juga keterampilan, inovasi, kewirausahaan, pemanfaatan teknologi, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Karena itu, Dedie mendorong pendidikan kepramukaan terus berkembang.
Bukan sekadar belajar dari pengalaman, tetapi juga menciptakan sesuatu dan menyelesaikan persoalan yang ada di sekitar.
“Karena itu, pendidikan kepramukaan harus terus berkembang, dari learning by doing menjadi learning, creating, and solving: belajar, mencipta, dan menyelesaikan persoalan nyata,” papar Dedie.
Semangat tersebut telah coba diwujudkan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Bogor melalui berbagai kegiatan.
Penanaman pohon dan sayuran, peternakan ayam, hingga program Wanita Bertani menjadi bagian dari kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
(gin)
Editor : Inilahkoran

