Kampus Didorong Perkuat Inovasi dan Kolaborasi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi tempat mahasiswa datang ke kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu menunggu hari kelulusan.
Di balik setiap kursi yang terisi, ada harapan yang lebih besar. Mahasiswa ingin lulus tepat waktu, memiliki kompetensi, dan tahu ke mana harus melangkah setelah mengenakan toga.
Karena itu, kampus dituntut tidak sekadar menjalankan rutinitas akademik. Perguruan tinggi harus mampu menghadirkan sistem yang membantu mahasiswa tumbuh dan siap menghadapi dunia kerja.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan tidak terjebak dalam pola pikir administratif.
“Perguruan tinggi harus mampu memberikan kepastian dan harapan kepada mahasiswa. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengatakan semuanya tergantung mahasiswa, tetapi harus menyiapkan sistem yang membuat mahasiswa mampu lulus tepat waktu, mandiri, dan siap menghadapi dunia kerja,” katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (9/8).
Ukuran keberhasilan kampus, menurut Fauzan, tidak hanya terlihat dari apa yang terjadi di ruang kuliah. Yang tak kalah penting adalah kemampuan perguruan tinggi memastikan lulusannya membawa kompetensi yang benar-benar dibutuhkan.
Berbagai inovasi akademik pun perlu terus dikembangkan, termasuk sistem yang dapat membantu mahasiswa menyelesaikan studi lebih cepat sekaligus meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia profesional.
Mahasiswa yang memiliki prestasi juga perlu mendapat ruang lebih luas. Capaian akademik maupun nonakademik, menurut Fauzan, seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran yang membentuk kompetensi dan karakter.
Di titik itulah inovasi menjadi penting. Perguruan tinggi tidak boleh membiarkan prosedur justru mematikan keberanian untuk mencoba hal baru. Dunia berubah cepat, sehingga kampus juga harus mampu bergerak dengan kecepatan yang sama.
“Kalau ingin berinovasi, jangan hanya melihat aturan. Kalau hanya melihat aturan, kita tidak akan menemukan inovasi. Perguruan tinggi harus berani melompat lebih jauh untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Fauzan.
Bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, transformasi pendidikan tinggi tidak berhenti pada pembaruan sistem. Penguatan tridarma perguruan tinggi juga harus menghasilkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat. (gin)
Editor : Inilahkoran


