Ketika Iraola Panik Salah Taktik
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Bsafaat
MALAM itu seharusnya menjadi panggung megah bagi Iraola yang melakoni debutnya sebagai arsitek di kompetisi tertinggi Eropa.
Namun alih-alih berjalan mulus, babak pertama laga Liverpool vs Atletico Madrid di Anfield, Kamis (10/9) dini hari WIB, justru berubah menjadi ujian mental yang berat.
Diego Simeone secara mengejutkan memasang formasi defensif 5-3-2 yang rapat dan disiplin, meluar dari prediksi tim analis Liverpool.
“Saya rasa saya yang harusnya disalahkan sejak awal, karena mereka sedikit mengejutkan kami secara taktik,” aku Iraola dengan jujur seusai laga.
Akibat salah membaca strategi tersebut, Liverpool tampil canggung dan kehilangan arah di menitmenit awal. Petaka datang pada menit ke-17 ketika Marcos Llorente kembali menghantui publik Anfield lewat gol pembuka setelah memanfaatkan celah kosong di lini pertahanan The Reds.
Di pinggir lapangan, Iraola tampak gelisah, menyadari bahwa rancangan taktik yang ia siapkan berhari-hari runtuh seketika di tangan dingin Simeone.
Sepak bola level tinggi sering kali dipenuhi ego, tetapi Iraola memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menyalahkan pemain atas gol tersebut, ia mengambil tanggung jawab penuh. Di dalam ruang ganti saat jeda turun minum, suasananya tidak dipenuhi amarah, melainkan diskusi taktis yang cepat untuk memperbaiki keadaan.
Memasuki babak kedua, Iraola membuktikan kapasitasnya dengan melakukan penyesuaian instan. Liverpool bermain lebih agresif, menekan lebih tinggi, dan mematikan motor serangan Atletico.
Perubahan ini membuahkan hasil nyata.
Setelah Dominik Szoboszlai menyamakan kedudukan di menit ke-40, Alexis Mac Allister meledakkan gemuruh Anfield pada menit ke-50 lewat gol penentu kemenangan.
Pertandingan ini bukan sekadar tiga poin biasa bagi Iraola, melainkan momen ia memutus rekor buruknya yang tak pernah menang melawan Simeone semasa melatih di Spanyol.
Namun, alih-alih merayakannya dengan jemawa, Iraola justru memilih memuji mental baja para pemainnya dan atmosfer luar biasa yang dihadirkan para pendukung di Anfield.
Pengakuannya yang jujur bahwa ia sempat “salah taktik” justru menaikkan respek publik terhadapnya.
“Kami mengira bakal berbeda; kami coba perbaiki langsung, tapi sulit melakuaknnya. Kami bermain lebih baik setelah jeda; kami menekan lebih baik, dan saya rasa kami tim terbaik di babak kedua,” pungkas Iraola. (bsf )
Editor : Inilahkoran

