Ketika Siswa Disabilitas Jadi Petugas Upacara
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Semangat Sumpah Pemuda tak hanya terdengar lewat ikrar yang dibacakan, tetapi juga terlihat dari keberanian anak-anak disabilitas mengambil peran di tengah upacara.
Di Kota Tasikmalaya, Rabu (28/10), mereka tidak sekadar hadir sebagai peserta.
Mereka berdiri di barisan petugas, menjalankan tugas, dan menunjukkan bahwa setiap pemuda memiliki kesempatan untuk berkontribusi.
Dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang digelar di sebuah restoran siap saji di Jalan Djuanda, Kota Tasikmalaya, para siswa dari sejumlah SLB swasta mendapat kepercayaan untuk mengisi berbagai posisi.
Kegiatan yang melibatkan Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas) itu mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati, Pemuda untuk Indonesia”.
Setiap anak mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Viola, seorang penyandang disabilitas daksa, bertugas sebagai protokol.
Dava yang memiliki hambatan penglihatan atau low vision dipercaya menjadi pemimpin upacara. Sementara itu, Nia dan Ella, penyandang disabilitas intelektual, membacakan Undang-Undang Dasar 1945 dan teks Sumpah Pemuda.
Di bagian lain, Azmi, Patra, dan Laal Bariq S. yang merupakan penyandang tunarungu mendapat tugas sebagai pengibar bendera.
Sibqi, seorang penyandang tunanetra, memimpin doa, sedangkan Farand yang memiliki sindrom Down bertugas sebagai ajudan.
Di balik pembagian tugas tersebut, ada pesan yang ingin disampaikan: keterbatasan bukan alasan untuk menutup kesempatan seseorang menunjukkan kemampuan dan mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat.
Usai upacara, para peserta mengikuti kitchen tour untuk mengenal lingkungan kerja dan aktivitas di dapur restoran. Kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi mereka untuk melihat lebih dekat dunia kerja, yang selama ini masih menjadi tantangan bagi banyak penyandang disabilitas.
Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya yang bertindak sebagai inspektur upacara menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat perhatian terhadap pemenuhan hak penyandang disabilitas, terutama dalam bidang pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan kerja.
“Ini merupakan kegiatan yang luar biasa, tentunya pertama di Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Menurut dia, pemuda penyandang disabilitas perlu memperoleh kesempatan yang setara untuk mengembangkan potensi dan menjalani kehidupan secara mandiri. Kesempatan itu, kata dia, tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus diteruskan dengan kebijakan yang membuka akses nyata bagi mereka.
“Ke depannya, bagaimana ruang-ruang kerja dibekali dengan kemampuan.
Karena apa? Mereka harus diberikan ruang yang sama, keadilan yang sama tentunya untuk melanjutkan kehidupan,” katanya.
Pengurus Papeditas, Tata Tajudin, mengatakan peringatan Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa nilai patriotisme, kegigihan, dan empati harus hadir dalam tindakan sehari-hari, termasuk dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak disabilitas.
(nunung nurohman)
Editor : Inilahkoran

