Ladang Mengering, Harapan Petani Ikut Layu
KEMARAU datang bersama ironi. Ongkos bertani melonjak, tetapi harga panen justru anjlok.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Agus Satia Negara
Musim kemarau biasanya menjadi masa yang ditunggu petani sayuran. Saat produksi menurun, harga lazimnya ikut merangkak naik sehingga hasil panen dapat menutup biaya bercocok tanam. Namun, harapan itu tak lagi dirasakan para petani di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Di tengah ladang yang mulai mengering, mereka justru menghadapi kenyataan pahit. Air menjadi barang mahal yang harus dibeli setiap hari, sementara harga sayuran di tingkat petani anjlok hingga nyaris tak mampu menutup ongkos produksi. Ironisnya, di pasar tradisional harga sayuran tetap tinggi.
Di Kampung Cikarang Mulya, Desa Pasirhalang, ribuan batang sayuran kini bertahan hidup dari air yang dibeli menggunakan uang hasil panen yang terus menyusut. Setiap tetes air menjadi pertaruhan agar tanaman tetap tumbuh hingga masa panen.
Bagi Dadang (56), kemarau tahun ini menghadirkan beban yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mata air yang biasa menghidupi ladangnya mengering, memaksanya membeli air PAM seharga Rp7.000 hingga Rp10.000 per meter kubik.
Dalam sehari, ia membutuhkan sedikitnya lima meter kubik air untuk menyiram tanaman. Artinya, biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk pengairan mencapai Rp35.000 hingga Rp50.000 setiap hari. Jika penyiraman dikurangi demi menghemat pengeluaran, kualitas tanaman ikut menurun dan hasil panen menyusut.
Di sisi lain, harga jual sayuran justru terjun bebas. Selada yang biasanya dihargai Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram kini hanya laku sekitar Rp2.000. Tomat dan buncis mengalami nasib serupa.
“Kami yang susah air, kami yang jual murah. Tapi di pasar harganya tetap tinggi,” ungkap Dadang, Kamis (6/8).
Keluhan serupa disampaikan Jajang (68). Petani senior itu masih mengingat ketika musim kemarau justru menjadi berkah karena berkurangnya pasokan membuat harga sayuran naik. Kini, keadaan berbalik.
Selada yang pernah menyentuh Rp20.000 per kilogram dan tomat Rp10.000 per kilogram, kini sama-sama hanya dihargai sekitar Rp2.000 per kilogram. Belum lagi panas ekstrem membuat hampir separuh buah tomat membusuk di pohon sebelum sempat dipanen.
“Belum lagi panas ekstrem membuat hampir separuh buah tomat membusuk di pohon sebelum dipanen,” katanya.
Menurut Jajang, kerugian yang mereka tanggung datang dari berbagai arah sekaligus. Harga jual merosot, hasil panen berkurang, sementara biaya produksi, terutama untuk membeli air, melonjak berkali-kali lipat.
(gin)
Editor : Inilahkoran


