Laga Tanpa Jeda
PARA penggawa Persib Bandung dipaksa berlaga tanpa jeda. Tubuh yang dipaksa melawan rasa lelah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Muhammad Ginanjar
September 2026 baru saja berjalan tiga pekan, namun bagi bek sayap Persib Ikhwan Tanamal merasa seperti sedang menjalani maraton tanpa akhir.
Bayangkan saja, mereka harus bertanding, mengemas koper, terbang ribuan kilometer, lalu langsung turun ke lapangan lagi dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Napas melelahkan ini dimulai pada 12 September 2026.
Tanamal harus menguras emosi dan fisiknya dalam laga sarat gengsi melawan Persija Jakarta di ibu kota.
Alih-alih bisa pulang ke rumah untuk memeluk keluarga dan beristirahat, skuat Maung Bandung justru harus langsung bersiap terbang ke Korea Selatan.
Di sana, di bawah langit Seoul yang asing, mereka menantang FC Seoul pada 16 September 2026 untuk laga perdana Grup E AFC Champions League (ACL) Two. Jam tidur yang berantakan karena perbedaan waktu (jet lag) dan otot yang kaku akibat perjalanan udara menjadi lawan tambahan yang tidak tampak di atas kertas.
Belum sempat napas kembali teratur setelah laga internasional tersebut, rombongan Persib sudah harus kembali membelah awan menuju tanah air.
Destinasi berikutnya? Jepara. Pada Minggu, 20 September 2026, mereka sudah harus berdiri tegak di lapangan untuk menantang Persijap Jepara dalam lanjutan Super League.
Dalam waktu delapan hari, mereka berpindah dari Jakarta, Seoul, hingga Jepara. Waktu pemulihan (recovery) yang ideal seolah menjadi kemewahan yang mahal bagi mereka.
Tanamal tidak mau bersandiwara. Pria di balik jersei bernomor punggung Persib ini mengakui bahwa tubuhnya tidak bisa berbohong. Rasa lelah itu nyata dan menggelayuti setiap langkahnya.
“Ya, capek ya. Tapi sebagai pemain bola profesional, kita harus profesional dalam sepak bola,” ungkap Tanamal, Minggu (20/9).
Kalimat singkat itu menjadi bukti betapa besarnya tuntutan mental yang harus ia miliki untuk mengalahkan rasa lelah demi lambang di dada.
Secercah harapan kini muncul seiring datangnya periode FIFA Matchday.
Tanamal dan penggawa Persib lainnya akhirnya bisa sedikit bernapas lega, melepaskan penat, dan mengembalikan kebugaran mereka yang sempat terkuras habis.Namun, masa tenang ini hanyalah jeda singkat sebelum badai berikutnya datang.
Memasuki Oktober 2026, kalender pertandingan Persib justru akan semakin mencekik. Tidak hanya Super League dan ACL Two, fokus dan fisik Tanamal akan kembali diuji di panggung ASEAN Club Championship.
Debut Asia Sementara itu, Tanamal mengungkapkan rasa bangganya sekaligus senang.
Pasalnya ia mendapatkan kesempatan bermain di AFC Champions League (ACL) Two 2026/2027.
Kesempatan itu didapatkan saat Persib menghadapi FC Seoul pada laga perdana grup E ACL Two 2026/2027 yang digelar di Seoul World Cup Stadium, Korea Selatan, Rabu (16/9).
Ini menjadi debut bagi Tanamal bermain di kompetisi Asia meski masuk sebagai pengganti pada menit ke-55 menggantikan Julio Cesar yang mengalami cedera.
“Alhamdulillah debut, pertama hasil tiga poin pertama di ACL Two. Sangat bangga dan sangat senang,” ungkap Tanamal.
Pemain berusia 22 tahun ini berharap ini menjadi pembelajaran yang bagus baginya untuk terus kemampuannya di lapangan terus meningkat.
“Ya, semoga ini jadi pembelajaran yang baik dan bagus agar ke depan bisa lebih meningkat dan bisa membantu Persib di kancah Asia,” harapnya.
Tanamal tak menampik merasakan grogi saat ditunjuk untuk bermain menggantikan Julio Cesar.
Apalagi lawan yang dihadapi adalah FC Seoul yang merupakan pemuncak klasemen sementara K-League 1.
“Awalnya sih cukup ya agak grogi sedikit ya pas tahu lawan Seoul, Korea.
Tapi pas di lapangan, ya biasa aja sih,” katanya. (bsf )
Editor : Inilahkoran

