Lima Pasar Direvitalisasi, Tiga Pengelola Berganti
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
INILAH, Bandung - Pagi di pasar selalu dimulai lebih cepat. Ketika sebagian warga baru bersiap memulai aktivitas, pedagang sudah sibuk membuka lapak, menata barang dagangan, dan menyambut pembeli pertama.
Di balik riuh transaksi itu, sejumlah pasar di Kota Bandung tengah menunggu perubahan. Bukan hanya wajah bangunan yang akan dibenahi, tetapi juga cara pasar dikelola.
Pemerintah Kota Bandung menempatkan lima pasar sebagai prioritas revitalisasi mulai tahun ini. Kelimanya yakni Pasar Cihapit, Pasar Ciroyom, Pasar Cihaurgeulis, ITC Kebon Kalapa, dan Pasar Baru.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, penjajakan kerja sama untuk merealisasikan revitalisasi tersebut masih berlangsung. Sejumlah kesepakatan baru mulai ditemukan, meski beberapa proyek masih membutuhkan negosiasi lebih lanjut.
Pasar Baru, misalnya, sudah memiliki investor. Namun, kerja sama tersebut masih harus dibicarakan kembali agar menemukan skema yang tepat.
"Tahun ini sudah menemukan kesepakatan-kesepakatan baru yang bisa kita lanjutkan. Pasar Baru sudah ada investornya, sekarang kita lagi melakukan negosiasi ulang," kata Farhan, Kamis (10/9).
Di Pasar Cihaurgeulis, pekerjaan yang sempat berhenti selama beberapa tahun juga akan kembali dilanjutkan. Revitalisasi di pasar tersebut tidak hanya menyangkut pembenahan fisik, tetapi sekaligus menjadi momentum untuk menata kembali pengelolaannya.
Sebab, bagi pemerintah kota, pasar yang nyaman bukan semata-mata soal bangunan yang baru. Pengelolaan yang tertata menjadi bagian penting agar aktivitas perdagangan dapat berjalan lebih baik.
Tiga pasar bahkan disiapkan untuk memiliki pengelola baru. Ketiganya adalah ITC Kebon Kalapa, Pasar Cihapit, dan Pasar Cihaurgeulis. "Yang akan dicari pengelola baru itu ITC Kebon Kalapa, Cihapit dan Cihaurgeulis. Itu akan cari pengelola baru," ujar Farhan.
Revitalisasi pasar membawa persoalan yang lebih panjang daripada sekadar merobohkan bangunan lama dan menggantinya dengan gedung baru.
Pemerintah menyiapkan sejumlah pola kerja sama, salah satunya build operate transfer (BOT). Pasar lainnya dapat dikelola secara langsung dengan skema yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi.
Namun, sebelum berbicara mengenai siapa yang mengelola dan bagaimana pasar dibangun, ada satu pekerjaan yang dianggap lebih mendasar: memastikan alas hak.
Dari pendataan pemerintah, masih ditemukan pasar yang belum memiliki alas hak. Kondisi itu menjadi persoalan yang harus dibereskan sebelum skema revitalisasi dan pengelolaan ditetapkan.
"Ada yang BOT, ada yang dikelola langsung. Yang paling penting mau itu BOT, mau dikelola langsung, alas hak harus ada. Karena baru sekarang ketahuan ada beberapa yang tidak punya alas hak," kata Farhan.
Persoalan tersebut menunjukkan, revitalisasi pasar bukan pekerjaan sederhana. Di dalamnya ada bangunan, pedagang, investor, pengelola, aset pemerintah, hingga kepastian hukum yang harus berjalan dalam satu jalur.
"Kalau sampai hari ini, paling besar tetap Pasar Baru Rp800 miliar. Saya juga lagi pusing, lagi berusaha mencari hitungannya. Nanti kemungkinan sih ada revisi," ujar Farhan. (gin)
Editor : Inilahkoran

