Panen Ikan Tergerus Kemarau

Panen Ikan Tergerus Kemarau
PRODUKSI MENURUN: Musim kemarau yang berlangsung lebih lama mulai memberikan tekanan nyata terhadap ketahanan produksi perikanan di KBB.

Oleh: Agus Satia Negara

INILAH, Bandung - Air menjadi persoalan yang semakin sulit bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang membuat sejumlah sumber air menyusut, sementara ikan tetap membutuhkan lingkungan yang cukup untuk tumbuh.

Debit sungai, waduk, hingga kolam yang berkurang perlahan mempersempit ruang budidaya. Bagi pembudidaya, kondisi itu bukan sekadar soal berkurangnya air, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ikan dan hasil panen yang menjadi sumber penghidupan.

Tekanan tersebut mulai terlihat dalam angka produksi perikanan. Data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB menunjukkan kinerja produksi pada Triwulan I 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada budidaya menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA), produksi turun sekitar 902 ton atau 9,1 persen. Dari 9.922 ton pada 2025, produksinya menjadi 9.020 ton pada 2026.

“Untuk budidaya menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA), tercatat penurunan sekitar 902 ton atau 9,1 persen, dari 9.922 ton pada tahun 2025 menjadi 9.020 ton di tahun 2026,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan KBB, Wiwin Aprianti, Kamis (10/9).

Penurunan lebih tajam terjadi pada budidaya dengan sistem kolam air tenang. Produksinya menyusut 260 ton atau sekitar 16,8 persen, dari 1.550 ton menjadi 1.290 ton dalam periode yang sama. Jika kemarau terus berlangsung, dampaknya diperkirakan belum berhenti pada angka-angka tersebut.

“Secara keseluruhan, dampak kekeringan ini diperkirakan memangkas hasil panen wilayah antara 10 hingga 20 persen,” ujar Wiwin.

Bagi ikan, air bukan sekadar tempat hidup. Ketersediaan dan kondisi air menentukan ruang gerak, pertumbuhan, serta keberlangsungan budidaya.

(gin)


Editor : Inilahkoran