Menakar Asa di Tengah Aroma Rasa
BISNIS kuliner Cimahi terus tumbuh, tetapi tak semua mampu bertahan. Persaingan ketat dan daya beli masyarakat menjadi tantangan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Aroma pertumbuhan bisnis kuliner kian terasa di Kota Cimahi. Namun, di balik ramainya usaha makanan dan minuman, ada persaingan yang menguji daya tahan para pelakunya.
Hingga Oktober 2026, sebanyak 512 wajib pajak usaha makanan dan minuman tercatat di Badan Pengelola Pendapatan Daerah (Bappenda) Kota Cimahi. Dari jumlah tersebut, 61 merupakan pendaftaran baru sepanjang tahun ini.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan geliat ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT). Namun, bertambahnya jumlah usaha tidak serta-merta menjamin keberlangsungan bisnis setiap pelakunya.
Sekretaris Bappenda Kota Cimahi, Faisal, mengatakan jumlah wajib pajak usaha makanan dan minuman menunjukkan pertumbuhan sekitar 31 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut Faisal, karakteristik Cimahi sebagai wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi, mobilitas masyarakat yang dinamis, serta pasar yang terus berkembang turut mendorong pertumbuhan sektor kuliner.
“Tak hanya didominasi oleh pelaku usaha baru, pasar kuliner Cimahi juga semakin ramai dengan hadirnya ekspansi sejumlah usaha kuliner berskala besar yang telah memiliki basis konsumen mapan dan kini memperluas jangkauan pasarnya dengan membuka cabang-cabang baru di wilayah Kota Cimahi,” tuturnya, Rabu (28/10).
Kehadiran pemain besar menambah semarak pasar kuliner Cimahi. Pilihan bagi konsumen semakin beragam, sementara pelaku usaha harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan pelanggan dan memenangkan persaingan.
Pertumbuhan yang terlihat dari bertambahnya jumlah usaha ternyata menyimpan sisi lain. Bappenda Cimahi mencatat sejumlah pelaku usaha kuliner mengalami kemunduran bisnis hingga terpaksa menghentikan operasionalnya.
Faisal menyebut tekanan ekonomi global yang berdampak pada daya beli masyarakat menjadi salah satu tantangan. Persaingan yang semakin ketat juga membuat pelaku usaha harus berbagi pangsa pasar dengan pemain besar yang telah memiliki konsumen loyal.
Tekanan tersebut membuat keberlangsungan usaha tidak mudah dijaga. Ketika pilihan konsumen bertambah dan persaingan semakin tajam, setiap pelaku bisnis dituntut mempertahankan daya saing agar tetap bertahan.
“Pangsa pasar yang harus dibagi dengan pemain-pemain besar menjadi tantangan utama yang membuat keberlangsungan usaha tidak mudah bagi semua pelaku,” ujarnya.
(agus satia negara/gin)
Editor : Inilahkoran

