Mendag Budi Santoso Sebut 80 Persen Produk di Ritel Modern Berasal dari UMKM
Mendag Budi Santoso menyebut sekitar 80 persen produk di ritel modern berasal dari UMKM. Pemerintah dorong standardisasi dan perluasan pasar ekspor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disebut telah mengisi sekitar 80 persen produk di ritel modern Indonesia. Pemerintah mendorong penguatan kualitas dan perluasan akses pasar, agar produk lokal semakin berdaya saing, termasuk menembus pasar ekspor.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, ritel modern memiliki peran strategis dalam mempertemukan produk UMKM dengan konsumen. Keberadaan jaringan ritel juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pemasaran, sekaligus meningkatkan skala bisnis.
Hal itu disampaikan Budi saat menghadiri peringatan Hari Ritel Nasional (HRN) 2026 dan Bulan Mutu Nasional bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) di Amanda Supermarket, Cihampelas Walk (Ciwalk), Kota Bandung, Senin (2/11/2026).
Mengusung tema Ritel Indonesia Maju: Menguatkan Produk Bermutu, Menggerakkan Ekonomi Indonesia, kegiatan yang berlangsung pada 2-11 November 2026 tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran ritel, dalam mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi nasional.
Budi menegaskan, pemerintah berupaya memberikan ruang lebih luas bagi produk lokal agar mampu bersaing di pasar domestik. Salah satu langkahnya ialah memperkuat akses pemasaran melalui ritel modern.
"Tadi kan saya tanya ke Pak Ketum (DPP Aprindo), jadi produk-produk kita yang sudah masuk ritel modern itu kurang lebih 80 persen," kata Budi.
Menurut dia, besarnya porsi produk lokal di ritel modern perlu diikuti dengan pengembangan pasar dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Sehingga, UMKM tidak hanya mampu mempertahankan posisi di pasar dalam negeri, tetapi juga memiliki peluang untuk tumbuh menjadi perusahaan besar.
Namun, Budi mengingatkan jika produk UMKM harus memenuhi standar yang ditetapkan jaringan ritel sebelum dipasarkan. Standardisasi menjadi faktor penting untuk memastikan kualitas produk sekaligus memberikan perlindungan kepada konsumen.
"Ya, jadi memang ya tadi saya sampaikan bahwa syarat untuk bisa masuk ritel itu standar produknya harus bagus, ya. Jadi ritel itu pasti punya standar. Kita terus mendorong ya, mendorong agar produk-produknya terstandar," ujarnya.
Budi menjelaskan, pemerintah terus mendorong pembinaan dan pendampingan bagi UMKM agar mampu memenuhi persyaratan tersebut. Produk yang berkualitas dinilai lebih mudah diterima konsumen sehingga memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.
Selain memperkuat pasar domestik, pemerintah juga berupaya memfasilitasi pelaku usaha untuk menjangkau pasar ekspor. Menurut Budi, keberhasilan menembus jaringan ritel modern dapat menjadi salah satu modal bagi produk lokal untuk meningkatkan daya saing.
"Dengan demikian, ketika produk kita bagus, kita juga bisa menjadi salah satu bagaimana membendung produk-produk asing bisa masuk ke Indonesia," tuturnya.
Dia menambahkan, penguatan produk lokal merupakan bagian dari upaya pemerintah menumbuhkan ekonomi kerakyatan. Pelaku UMKM yang awalnya menjalankan usaha dalam skala kecil diharapkan dapat berkembang melalui dukungan akses pasar dan kemudahan berusaha.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai sektor ritel memiliki kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Bandung, terutama melalui aktivitas perdagangan dan penyerapan tenaga kerja.
Farhan menyambut baik penunjukan Kota Bandung sebagai pusat perayaan HRN 2026. Menurut dia, penguatan sektor ritel sejalan dengan upaya pemerintah kota meningkatkan aktivitas ekonomi dan mendorong ekspor.
"Sebuah kebanggaan bagi Kota Bandung dijadikan sebagai pusat perayaan Hari Ritel Nasional. Kota Bandung saat ini sedang gebut ekspor untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Dan salah satu motor penggerak dari laju pertumbuhan ekonomi ini adalah tentu saja bisnis ritel," kata Farhan.
Dia menuturkan, besarnya aktivitas bisnis ritel di Kota Bandung harus diimbangi dengan iklim persaingan usaha yang sehat. Dengan demikian, sektor tersebut dapat terus berkembang dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Farhan juga mengapresiasi dukungan Kementerian Perdagangan, Aprindo, dan para pelaku usaha dalam menjaga keberlangsungan bisnis ritel di tengah persaingan usaha.
Ketua Umum DPP Aprindo, Solihin mengatakan, ritel modern membuka kesempatan bagi UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
Dia berharap, semakin banyak pelaku UMKM yang mampu memanfaatkan akses tersebut untuk mengembangkan usaha hingga menjadi bisnis berskala besar.
"Jadi, kita pengen teman-teman UMKM nanti menjadi besar, menjadi milyaran, Pak ya, usaha dari kecil menjadi milyaran," ujar Solihin.
Solihin mencontohkan, Amanda Brownies sebagai usaha yang berawal dari skala kecil dan berkembang menjadi bisnis yang dikenal luas masyarakat.
Menurut dia, penyelenggaraan HRN 2026 di Amanda Supermarket menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pengembangan UMKM. Kegiatan tersebut diharapkan membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk dan memperluas pasar.
Sinergi pemerintah, Aprindo, dan pelaku usaha ritel dinilai penting untuk memastikan produk UMKM tidak hanya mampu menembus pasar modern, tetapi juga terus meningkatkan kualitas dan daya saing.
Melalui penguatan standardisasi, perluasan akses pemasaran, dan pendampingan usaha, produk lokal diharapkan semakin kokoh di pasar domestik sekaligus memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di pasar internasional.
Editor : Ahmad Sayuti

