Menjaga Kota Melalui Budaya Siaga Bersama
BENCANA bisa datang tanpa aba-aba. Karena itu, budaya siaga dinilai menjadi bekal penting bagi setiap warga Kota Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Tak ada seorang pun yang tahu kapan bencana akan datang. Namun, satu hal yang dapat dipersiapkan adalah bagaimana masyarakat bersikap ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Di Kota Bandung, kesiapsiagaan itu kini didorong agar tidak sekadar menjadi prosedur, melainkan tumbuh sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat mengukuhkan Kampung Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Coblong di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jumat (31/7).
Bagi Farhan, kota yang berada di kawasan dengan potensi aktivitas Sesar Lembang membutuhkan masyarakat yang tidak hanya sadar akan risiko, tetapi juga siap bertindak.
"Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus berada dalam konteks kultural atau pembudayaan. Jangan dianggap sekadar persoalan teknis, tetapi harus menjadi kebiasaan masyarakat," ujar Farhan dalam keterangan persnya.
Menurutnya, budaya siaga bencana dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Warga perlu mengetahui jalur dan titik evakuasi, memahami langkah penyelamatan diri, serta memiliki kesadaran untuk saling membantu ketika bencana datang.
Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat, kata Farhan, dampak bencana di Kota Bandung tidak hanya dirasakan oleh warga setempat, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas kawasan yang lebih luas. Karena itu, kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini.
Farhan menilai, semangat gotong royong menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Menurutnya, menjaga keselamatan kota bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh warga.
"Gotong royong adalah budaya sekaligus kepribadian bangsa. Tugas menjaga kota ini bukan semata-mata tugas pemerintah, tetapi harus melibatkan partisipasi masyarakat," katanya.
Dia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada sikap individualistis yang hanya mengandalkan pemerintah ketika menghadapi keadaan darurat.
Berbagai organisasi kemasyarakatan seperti RT, RW, PKK, Posyandu, Karang Taruna, LPM, Taruna Siaga Bencana (Tagana), hingga Kampung Siaga Bencana dinilai menjadi kekuatan sosial yang harus terus dirawat.
"Warga jaga warga bukan sekadar slogan. Itu adalah kesepakatan hati untuk saling menjaga dan saling membantu ketika menghadapi berbagai persoalan," ujarnya.
Farhan juga mengajak masyarakat mengutamakan aksi nyata ketika bencana terjadi. Menurutnya, menolong sesama jauh lebih penting daripada sekadar mengabadikan peristiwa.
Dia meyakini masyarakat yang memiliki budaya gotong royong akan mempunyai daya lenting atau resiliensi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
Karena itu, keberadaan Kampung Siaga Bencana menjadi wadah untuk melembagakan semangat tersebut melalui sistem yang terencana dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Bandung Yorisa Sativa mengatakan, pembentukan Kampung Siaga Bencana merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menekankan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis masyarakat. (gin)
Editor : Inilahkoran


