Merah Putih Mengapung di Laut Selatan

LAUT selatan bergelombang tinggi, tetapi semangat kemerdekaan tetap menyala. Merah Putih berkibar di antara debur ombak Pantai Baron.

Merah Putih Mengapung di Laut Selatan
PENGIBARAN BENDERA: Proses pengibaran bendera Merah Putih di tengah laut oleh SRI DIY pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (17/8).

Ombak laut selatan pagi itu datang dengan tenaga yang cukup besar. Gelombang menggulung buih dan puing sebelum pecah menghantam tebing Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Angin laut membawa butiran air yang sesekali menyentuh kulit. Matahari sudah cukup terik, tetapi suasana pantai justru terasa khidmat.

Tepat pukul 10.00 WIB, suara deburan ombak seolah menjadi latar bagi lagu "Indonesia Raya". Ratusan peserta dari berbagai instansi, sekolah, dan lapisan masyarakat Gunungkidul berdiri rapi di atas pasir.

Bendera Merah Putih perlahan naik. Para peserta memberi hormat, sementara di kejauhan laut selatan terus bergerak dengan gelombangnya.

Upacara itu menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Namun, ada yang membuatnya berbeda. Lokasi upacara berada di kawasan pantai yang dikelilingi air, menyerupai sebuah pulau kecil.

Sejak sekitar pukul 09.00 WIB, peserta harus menyeberang menggunakan kapal nelayan yang disediakan di dermaga kecil. Satu per satu kapal bergerak membawa sekitar tujuh hingga delapan orang menuju lokasi.

Wisatawan, pedagang, dan pengunjung Pantai Baron ikut menjadi saksi. Mereka memadati tepian pantai, menyaksikan upacara yang berlangsung di tengah bentang alam laut selatan.

Namun, cerita tentang Merah Putih belum selesai ketika upacara di darat berakhir. Puluhan petugas Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) DIY mulai bersiap. Mereka mengenakan perlengkapan renang dan membawa papan seluncur.

Tiga orang yang ditunjuk sebagai pengibar bendera di tengah laut lebih dulu menceburkan diri. Personel lainnya kemudian mengikuti.

Tujuan mereka berada sekitar 150 meter dari bibir pantai: sebuah tiang bendera apung yang telah dipasang di tengah laut.

Jarak itu terasa jauh ketika harus ditempuh dengan berenang melawan ombak. Gelombang yang mencapai sekitar dua meter membuat sebagian personel kesulitan mencapai titik tujuan.

Dua sky boat bergerak mengawal dari sisi lain. Kapal-kapal itu berputar mengelilingi area untuk memantau para personel sekaligus memastikan keselamatan mereka.

Beberapa perenang akhirnya memilih kembali. Namun, sebagian lainnya terus bergerak, melawan gelombang demi mencapai tiang bendera.

"Semangat teman-teman luar biasa. Prosesi ini merefleksikan bagaimana perjuangan para pendahulu dalam mencapai kemerdekaan, walaupun apa yang kita lakukan ini belum ada apa-apanya," kata Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah Operasi II Pantai Baron Marjono di lokasi acara, Senin (17/8). 

Perlahan, sejumlah personel berhasil mencapai tiang bendera. Mereka kemudian mempersiapkan Sang Merah Putih untuk dikibarkan.

Setelah aba-aba diberikan, para perenang berdiri dan bersikap hormat di tengah laut. Kapal nelayan dan sky boat mengelilingi tiang bendera apung. Sekali lagi, "Indonesia Raya" terdengar. Kali ini bukan dari hamparan pasir, melainkan dari tengah laut Pantai Baron.

"Tiang bendera apung yang kami pasang itu tingginya sekitar 10-15 meter. Itu cukup sulit karena petugas terombang-ambing saat memasang bendera," ujar Marjono, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (18/8).

Gelombang terus bergerak. Tubuh para personel terombang-ambing. Namun, Merah Putih akhirnya berkibar di tengah laut."Tinggi ombak itu mungkin sekitar dua meter," katanya.

Bagi SRI DIY, aksi tersebut bukan sekadar atraksi memperingati kemerdekaan. Kegiatan itu telah menjadi tradisi yang dilakukan setiap tahun sejak 2013.

Marjono mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat, khususnya masyarakat pesisir, mengenai pentingnya nasionalisme.

"Memberikan pemahaman kepada warga masyarakat pesisir dan juga dari rekan-rekan SRI biar rasa nasionalisme itu semakin mendalam," ujarnya.

Di antara para perenang, ada sosok perempuan yang ikut menjadi bagian dari tim pengibar bendera. Susmiyati, 35 tahun, adalah personel SRI DIY yang memiliki kemampuan berenang. Tahun ini, dia dipercaya menjadi salah satu pengibar Merah Putih bersama Surono dan Heri Wibowo.

"Kalau yang ikut terjun renang perempuannya totalnya ada tiga, tapi saya diberi tugas menjadi pengibar bendera," katanya.

Bagi Susmiyati, tantangan tahun ini terasa lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Kontur dasar laut dari bibir pantai menuju titik tiang bendera membuat jarak berenang terasa lebih panjang.

"Tahun kemarin itu cukup datar pasirnya, jadi berenang enggak terlalu jauh. Kalau sekarang lebih berat karena dari pasir langsung dalam," ujarnya.

Ini merupakan kali keempat Susmiyati mengikuti pengibaran Merah Putih di tengah laut. Persiapannya tahun ini pun tidak banyak karena gelombang tinggi sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Hanya satu hari persiapan yang dilakukannya. Namun, pengalaman menjadi perenang dan kegemarannya terhadap laut menjadi bekal tersendiri. "Saya memang suka renang dan ikut kelas diving juga," katanya.

Pagi itu, Pantai Baron bukan hanya menjadi tempat upacara. Laut, ombak, kapal nelayan, dan para perenang berpadu menjadi panggung bagi sebuah perayaan kemerdekaan.

Merah Putih berkibar di daratan. Beberapa waktu kemudian, bendera yang sama kembali berkibar di tengah laut, di antara gelombang yang tak pernah benar-benar tenang.

Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan para petugas SRI DIY: kemerdekaan bukan sekadar upacara, tetapi juga keberanian untuk menghadapi tantangan, menjaga sesama, dan terus menumbuhkan rasa cinta kepada negeri. (gin) 


Editor : Inilahkoran