Pabrik Garmen Cimahi Tutup, Dedi Mulyadi Ungkap Alasan Investasi Padat Karya Pindah

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi tanggapi PHK PT Namnam Cimahi. Ia sebut industri garmen bergeser ke Indramayu & Majalengka yang buka puluhan ribu loker.

Pabrik Garmen Cimahi Tutup, Dedi Mulyadi Ungkap Alasan Investasi Padat Karya Pindah
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi

INILAHKORAN.ID - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang menerpa industri garmen di Jawa Barat dinilai bukan semata akibat melemahnya bisnis, tetapi juga imbas dari perubahan peta investasi sektor padat karya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut industri seperti garmen, tekstil, dan alas kaki memiliki karakter yang sangat sensitif terhadap biaya produksi. Ketika menemukan wilayah dengan beban tenaga kerja lebih rendah, perusahaan dinilai akan cenderung memindahkan basis produksinya.

Pernyataan tersebut disampaikan Dedi, merespons kasus penghentian operasional PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi yang berdampak terhadap ratusan pekerja.

"Perusahaan padat karya memang begitu. Kalau sudah mencapai titik tertentu dan ada daerah lain yang biaya tenaga kerjanya lebih murah, biasanya mereka pindah. Itu terjadi di mana-mana," ujar Dedi, Selasa (4/8/2026).

Menurut Dedi, kondisi tersebut merupakan siklus yang biasa terjadi dalam industri padat karya. Berbeda dengan industri padat modal yang membutuhkan investasi besar dan cenderung memiliki orientasi jangka panjang, industri garmen memiliki fleksibilitas lebih tinggi untuk berpindah lokasi.

"Kalau industri padat karya, khususnya garmen, memang harus dipahami bahwa dalam siklus usahanya bisa saja menutup atau berpindah lokasi," ucapnya.

Di tengah tekanan PHK, Dedi memastikan peluang kerja baru di Jawa Barat masih tersedia. Namun, titik pertumbuhan industri mulai mengalami pergeseran dari kawasan lama menuju wilayah yang memiliki daya saing biaya lebih tinggi.

Dia menyebut kawasan industri di wilayah timur Jawa Barat seperti Indramayu, Majalengka, hingga Garut kini menjadi magnet baru bagi investasi manufaktur, khususnya sektor alas kaki dan garmen.

"Hari ini lapangan kerja baru juga banyak. Kawasan industri terus tumbuh. Rekrutmen untuk industri sepatu, alas kaki, maupun garmen sangat besar di Indramayu, Majalengka, termasuk Garut," katanya.

Dedi menilai, perubahan lokasi investasi tersebut terjadi karena kawasan industri lama seperti Bandung Raya, Karawang, Purwakarta, dan Bandung Barat menghadapi struktur biaya tenaga kerja yang lebih tinggi.

"Kalau dulu banyak di Bandung, Karawang, Purwakarta, atau Bandung Barat, sekarang bergeser karena di Indramayu dan Majalengka upahnya lebih rendah sehingga perusahaan memilih berinvestasi di sana," katanya.

Sebab itu, Dedi meminta pekerja yang terdampak PHK untuk tidak hanya bergantung pada kawasan industri lama, tetapi mulai mempertimbangkan peluang kerja di daerah-daerah yang menjadi pusat pertumbuhan baru.

"Kalau ingin tetap bekerja di sektor garmen atau alas kaki, memang harus siap bergeser ke daerah-daerah itu. Kebutuhan tenaga kerjanya masih sangat besar, mencapai puluhan ribu orang," tuturnya.

Sebelumnya, PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi menghentikan aktivitas produksinya, setelah mengalami penurunan pesanan dalam waktu panjang. Kondisi tersebut membuat ratusan pekerja terdampak PHK.

Kasus tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah video sejumlah pekerja yang menangis usai menerima kabar PHK beredar luas di media sosial.


Editor : Ahmad Sayuti