Pelatihan TIK Tingkatkan Kapasitas Guru SLB
Di balik setiap karya anak berkebutuhan khusus, selalu ada tangan-tangan sabar yang membimbing mereka.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Rizki Mauludi
INILAH, Bogor - Di balik setiap karya anak berkebutuhan khusus, selalu ada tangan-tangan sabar yang membimbing mereka. Tangan itu milik para guru Sekolah Luar Biasa (SLB), yang setiap hari mengajarkan lebih dari sekadar membaca dan berhitung.
Mereka menumbuhkan kepercayaan diri, melatih kemandirian, dan membuka jalan agar setiap anak mampu menemukan potensinya.
Komitmen itulah yang kini diperkuat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui pelatihan keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi guru SLB.
Program yang digelar Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (PMPK) di Kota Bogor itu menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi pendidikan inklusif di Indonesia.
Bagi Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati, menjadi guru SLB bukanlah pekerjaan yang dipilih banyak orang. Dibutuhkan kesabaran, kepedulian, dan komitmen yang jauh melampaui tuntutan profesi.
"Tidak banyak orang yang bersedia bekerja di SLB. Hanya sedikit yang memilih mengabdikan dirinya untuk sekolah luar biasa. Karena itu, dedikasi para guru layak mendapatkan apresiasi," ujarnya, Senin (20/7).
Pelatihan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi digital saat mengajar, tetapi juga melahirkan para pendidik yang mampu menjadi penggerak perubahan di sekolah masing-masing.
Antusiasme terhadap program ini pun cukup tinggi. Sebanyak 855 guru SLB dari berbagai provinsi mendaftarkan diri. Setelah melalui proses seleksi administrasi dan evaluasi akademik, hanya 30 guru yang akhirnya mengikuti pelatihan praktik secara luring di Bogor.
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, menilai peningkatan kompetensi guru harus berjalan beriringan dengan upaya memberi ruang yang lebih luas bagi karya peserta didik berkebutuhan khusus.
Karena itu, Direktorat Guru PMPK memperkenalkan Lapak Luar Biasa (Lalubi), sebuah platform digital yang menjadi etalase nasional bagi karya-karya anak berkebutuhan khusus. Selama ini, banyak hasil karya mereka hanya dikenal di lingkungan sekolah.
Melalui Lalubi, karya tersebut diharapkan dapat diapresiasi masyarakat luas, sekaligus membangun kesadaran bahwa anak berkebutuhan khusus mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan bernilai.
"Tujuan utamanya bukan semata-mata mendorong penjualan produk, melainkan menjadi simbol penghargaan atas karya yang dihasilkan," kata Arif. (gin)
Editor : Inilahkoran


