Pemprov Jabar Pastikan Prevalensi Stunting di 2024 Turun, 2025 Ditarget Tinggal 14 Persen

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan prevalensi stunting di 2024 telah turun signifikan, dari angka 21,7 persen.

Pemprov Jabar Pastikan Prevalensi Stunting di 2024 Turun, 2025 Ditarget Tinggal 14 Persen
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan prevalensi stunting di 2024 telah turun signifikan, dari angka 21,7 persen.
INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan prevalensi stunting di 2024 telah turun signifikan, dari angka 21,7 persen.
Ini dikatakan Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin usai rapat pimpinan (Rapim) di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 7 Januari 2025.
Dimana dalam Rapim tersebut, Pemprov Jabar membahas mengenai prevalensi stunting, program Medical Check Up (MCU) dari pemerintah pusat dan penyerahan rumah hunian bagi masyarakat terdampak bencana.
Soal stunting, Bey Machmudin mengatakan dari pendampingan yang dilakukan Pemprov Jabar kepada Survey Status Gizi Indonesia (SSGI), telah didapati angkanya turun.
Kondisi ini kian meningkatkan optimisme Pemprov Jabar, untuk mematok shadow target atau target bayangan prevalensi stunting Jabar di 2025 kata Bey Machmudin, harus kembali turun dan menjadi 14 persen untuk menuju zero new stunting pada 2030 mendatang.
"Stunting hasilnya belum. Kemarin itu kami melakukan pendampingan, hasilnya cukup baik. Tapi kami belum boleh publish. Agak signifikan (penurunannya). Dibandingkan tahun lalu, sangat signifikan turunnya. Tapi kurang lebihnya di bawah 20 (persen) ya," kata Bey Machmudin.
Dia melanjutkan, Sekda Jabar Herman Suryatman bahkan turun langsung membantu pendampingan di Kabupaten Sumedang untuk memantau proses pendataan prevalensi stunting.
Termasuk melibatkan para mahasiswa yang tengah menjalani kuliah kerja nyata (KKN), yang mana pada hasil keseluruhan di 27 kabupaten/kota se-Jabar telah terjadi penurunan angka prevalensi stunting.
"Sudah semua (turun), hanya perlu beberapa verifikasi (di sejumlah kabupaten/kota). Pendampingan, pengukuran, pencatatan didampingi betul. Target 2025. Shadow target 14. Berdoa tercapai," ucapnya.
Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi mengaku optimistis, prevalensi stunting di Jabar dapat turun di 2024 ini.
Dari hasil data E-PPBGM sepanjang Januari-November ini sambung dia, didapati angka prevalensi stunting di Jabar sudah 7 persen. 
Turun cukup jauh dibandingkan pada 2023 silam, dimana prevalensi stunting Jabar di angka 21,7 persen.
Hanya saja ini belum dapat dijadikan patokan seutuhnya tambah dia, karena bergantung dari hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI).
"2024 harus 14 persen. Jadi kalau lihat semangat di kota/kabupaten, banyak sekali inovasi yang dibuat. Kurang dari 10 persen. 7 kalau tidak salah. Kalau lihat dari E-PPBGM. Tapi yang diakui data survei, jadi kita tunggu saja," ucapnya.
Meski demikian, Vini mengaku optimistis walaupun nantinya hasil E-PPBGM tidak sesuai dengan SSGI.
"Kita tunggu saja. Saya optimis karena banyak yang sudah dilakukan kabupaten/kota. Minimal target kita di bawah angka nasional. Syukur-syukur bisa 14 persen, walaupun berapapun hasilnya, tahun depan kita massifkan lagi," sambungnya.
Sementara mengenai kota/kabupaten yang masih tinggi angka prevalensi stunting, Vini mengungkap ada empat daerah lagi yang harus digenjot.
"Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Bandung Barat dan Kabupaten Tasikmalaya," ungkapnya.
Dia berharap, melalui usaha bersama prevalensi stunting di empat kawasan tersebut juga wilayah lainnya dapat berkurang.
"Kita harus mengingat, berapa anak yang harus diselamatkan," tandasnya.***


Editor : JakaPermana