Pemprov Jabar Waspadai Komoditas Beras dan Hortikultura di Musim Kemarau

Fenomena El Nino ekstrem atau yang dikenal sebagai El Nino Godzilla mulai memunculkan ancaman terhadap ketahanan pangan di Jawa Barat

Pemprov Jabar Waspadai Komoditas Beras dan Hortikultura di Musim Kemarau
Ilustrasi kemarau

INILAHKORAN.ID - Fenomena El Nino ekstrem atau yang dikenal sebagai El Nino Godzilla mulai memunculkan ancaman terhadap ketahanan pangan di Jawa Barat. kemarau yang datang lebih awal dan diperkirakan berlangsung lebih panjang, berpotensi menekan produksi sejumlah komoditas strategis, terutama beras dan produk hortikultura.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengakui, pemerintah tengah mewaspadai dampak kekeringan terhadap produksi pangan. Komoditas yang paling menjadi perhatian adalah beras, karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat.

"Karena kalau dengan posisi kemarau kayak gini, mungkin produksi beras kita tidak sebaik tahun kemarin, karena ada El Nino di tahun ini. Dan lebih early-nya musim kemarau dan juga diperparah dengan adanya El Nino, maka kemudian musim kemarau menjadi lebih lama," kata Nining saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Minggu (9/8/2026).

Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu produktivitas sawah dan menurunkan hasil panen padi pada musim tanam berikutnya. Meski demikian, Pemprov Jabar memastikan ketersediaan beras masih dalam kondisi aman berkat cadangan yang dimiliki Perum Bulog.

"Sehingga kita khawatirkan panen untuk padi ini nantinya agak terganggu. Tapi di sisi lain kan stok dari Bulog ini kita pastikan terus bahwa stoknya aman sampai akhir tahun," ujarnya.

Selain beras, ancaman El Nino juga membayangi sektor hortikultura. Disperindag menilai komoditas seperti cabai dan bawang merah berpotensi mengalami gejolak harga apabila produksi menurun akibat kekurangan pasokan air.

"Nah, yang kita khawatirkan yang tadi, produk-produk hortikultura. Jadi seperti kemudian cabai, kemudian juga dalam posisi bawang merah," ucap Nining.

Menurutnya, pemerintah saat ini melakukan pengawasan ketat terhadap stok dan distribusi komoditas hortikultura, untuk mengantisipasi penurunan pasokan di pasar. Berbeda dengan bawang merah, harga bawang putih dinilai lebih dipengaruhi faktor eksternal karena sebagian besar masih bergantung pada impor.

"Kalau bawang putih kan karena impor, kebanyakan masih impor. Kalau pun ada kenaikan itu disebabkan oleh nilai tukar rupiah kita yang posisinya turun," katanya.

Di tengah ancaman kekeringan, sektor peternakan justru menunjukkan kondisi yang relatif aman. Disperindag memastikan pasokan telur ayam ras dan daging ayam ras di Jawa Barat masih surplus hingga akhir 2026, bahkan setelah memperhitungkan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Nining menjelaskan, produksi daging ayam ras diproyeksikan mencapai 1,064 juta ton hingga akhir tahun, sedangkan kebutuhan masyarakat diperkirakan sekitar 1,057 juta ton.

"Berarti masih ada surplus 7.290 ton untuk daging ayam ras," ujarnya.

Sementara itu, produksi telur ayam ras diperkirakan mencapai 1,062 juta ton dengan total kebutuhan sekitar 809 ribu ton. Artinya, Jawa Barat masih memiliki kelebihan pasokan yang cukup besar.

"Jadi ada surplus kita sampai akhir tahun posisinya di 252.000 ton. Jadi masih aman," kata Nining.

Meski stok melimpah, pemerintah tetap memberi perhatian terhadap distribusi pangan ke daerah-daerah yang bukan sentra produksi agar tidak terjadi kelangkaan maupun lonjakan harga.

"Walaupun kita harus kemudian memperhatikan tingkat distribusinya, biar kemudian untuk daerah-daerah tertentu yang bukan penghasil nantinya mendapatkan distribusi tepat waktu," tuturnya.

Untuk komoditas beras, Nining menegaskan kondisi pasokan hingga akhir tahun masih terkendali. Apalagi pemerintah pusat akan menyalurkan bantuan beras kepada masyarakat berpenghasilan rendah mulai Agustus 2026 guna menjaga daya beli dan ketahanan pangan rumah tangga.

"Beras aman, karena posisinya Bulog kan sudah menjaga dari posisi ketersediaan pasokan. Apalagi di Agustus nanti pemerintah menggelontorkan beras untuk masyarakat miskin," katanya.

Dengan ancaman El Nino Godzilla yang diprediksi berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, stabilitas produksi pangan, distribusi, dan cadangan beras menjadi faktor krusial yang harus dijaga. 

Jika kemarau berkepanjangan terus menekan sektor pertanian, komoditas hortikultura diperkirakan menjadi kelompok pangan pertama yang paling rentan mengalami gejolak pasokan dan harga. (Yuliantono)


Editor : Ahmad Sayuti