Peringati Hari Lahir Pancasila, DPRD Jabar Gelar Kegiatan Parlemen Mengabdi Bertajuk Pancasila untuk Dunia
DPRD Jawa Barat menggelar acara Parlemen Mengabdi bertajuk "Pancasila untuk Dunia" di Gedung Merdeka pada Jumat, 21 Juni 2024. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Lahir Pancasila dan mengenang sejarah yang ditorehkan oleh Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Bandung- Menapaki jejak sejarah Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarni, sekaligus memperingati Hari Lahir Pancasila, DPRD Jawa Barat menggelar kegiatan Parlemen Mengabdi bertajuk Pancasila untuk Dunia yang digelar di Gedung Merdeka, Jumat, 21 Juni 2024 lalu.
Ketua Komisi I DPRD Jabar, Dr. H. Bedi Budiman mengatakan, lahirnya Pancasila sebagai ideologi Indonesia terjadi pada 1 Juni 1945. Saat itu, Soekarno atau Bung Karno menyampaikan pendapat di akhir sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
"Pancasila terkait pidato di tanggal 1 Juni 1945, di mana Bung Karno menyampaikan pendapatnya di akhir pertemuan sidang Dokuritsu Junbi Cosakai," kata Bedi di Gedung Merdeka, Jumat 21 Juni 2024 lalu.
Bedi pun menyimpulkan lima poin ideologi Pancasila yang dikaitkan dalam kondisi geopolitik. Pertama, kebijakan politik luar negeri Indonesia yang menepatkan Pancasila sebagai "weltanschauung", menjadikan Indonesia memiliki navigasi yang jelas dalam menghadapi pertarungan Ideologis Liberal-Kapitalis vs Sosialis-Komunis.
Kedua, 'Indonesian value' pernah menjadi inspirasi dalam diskursus global mewakili negara-negara dunia ketiga, berhasil secara monumental dalam proses dekolonisasi, detente, dan disarmament.
Ketiga, geopolitik 'great power' yang ekspanisonis dan eksploitatif kembali menjadi akar pertarungan dalam upaya mereka menghegemoni perekonomian dunia. Koeksistensi damai hanya bersifat sementara yang bergantung pada derajat kepentingannya.
Keempat, meredupnya diskursus nasionalisme dan kesadaran keamanan regional dihamparan Asia, Afrika, Amerika Selatan, telah membawanya pada kelengahan kolektif, sehingga rapuh, mudah bertikai oleh isu yang bersifat sektarian sehingga sulit untuk membangun kedaulatan ekonomi.
Terakhir, nilai-nilai universal Pancasila telah menjadi wadah persatuan bagi agama-agama besar, multi etnik, dan budaya, demikian halnya di bidang ekonomi, maka Pancasila secara “deliberative” harus dipromosikan kembali menjadi diskursus global.
Dalam kesempatan yang sama Head of Foreign Affairs Republic of Indonesia, Dr. Yayan Ganda Hayat Mulyana menambahkan, dia meyakini ketika Pancasila khususnya sila kelima 'Keadilan Sosial yang Adil dan Beradab' menjadi arus utama, maka Indonesia perlu mengkalibrasi diplomasi bagi umat manusia dan kemanusiaan.
Sebab, ancaman yang meliputi perang maupun konflik semakin nyata adanya. Misalkan, ketegangan di kawasan Cina Selatan, Semenanjung Korea, Asia Timur, dan lain-lainnya. "Jadi, drive in diplomacy Pancasila untuk masa depan," kata Yayan.
Sementara itu, Penulis Buku berjudul Soekarno Menggenggam Dunia, Yudi Latif Ph.D berujar, Pancasila merupakan dasar simplisitas dari kompleksitas manusia. Sebab, dalam sila pertama berisikan manusia sebagai makhluk rohani, sila kedua berbicara manusia sebagai makhluk universal.
Kemudian, sila ketiga berbicara manusia yang masuk partikular dalam kenyataan kesatuan tumpah darah yang sama, ikatan manusia dengan geopolitiknya. Sila keempat berbicara tentang manusia sebagai makhluk sosial dalam cara menyelesaikan masalahnya juga dilalui dengan jalur-jalur konsensus, humanis, dan jalur yang menjaga persatuan yang jalan musyawarah.
"Dan sila kelima, manusia sebagai makhluk jasmani, individu, selama kita punya daging kita perlu makan, perlu minum. Cara berbagi kasih terhadap sesama manusia dengan berbagi kebutuhan jasmani, itu lah yang disebut Keadilan. Jadi Pancasila bukan saja cocok bagi Indonesia tapi Pancasila itu cocok menjadi ideologi global. Seperti pidato Bung Karno tahun '60 di PBB," pungkasnya.***
Editor : Ghiok Riswoto


