Profil Tom Lembong, Tersangka Dugaan Kasus Korupsi Impor Gula Saat Masih Jadi Mendag di Era Jokowi
Nama Tom Lembong pun mendadak menjadi trending topik di media sosial pasca penetapan tersangka dugaan kasus korupsi impor gula.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Sosok Thomas Trikasih Lembong atau yang dikenal dengan Tom Lembong menjadi perbincangan hangat setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapaknnya sebagai tersangka dalam dugaan kasus korupsi impor gula.
Nama Tom Lembong pun mendadak menjadi trending topik di media sosial pasca penetapan tersangka dugaan kasus korupsi impor gula. Kasus ini merupakan kasus saat dirinya menjadi Menteri Perdagangan di era Jokowi.
Lantas, siapa sebenarnya Tom Lembong? dan bagaimana jejak karirnya dalam dunia politik? simak profil Tom Lembong berikut ini.
Seperti yang diketahui, Thomas Lembong dulunya adalah Jubir Presiden Jokowi selama menjabat tahun 2019-2024. Dia pernah masuk tim sukses pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 1, Anies Baswedan dan Cak Imin.
Thomas Lembong lahir pada 4 Maret 1971, sebagai anak dari Yohanes Lembong (Ong Joe Gie), seorang dokter spesialis jantung dan THT, serta Yetty Lembong.
Pria yang beragama Katolik ini menikah dengan Maria Franciska Wihardja pada tahun 2002, dan dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai sepasang putri dan putra.
Meski lahir di Jakarta, Thomas Lembong menghabiskan masa kecilnya di Jerman hingga usia 10 tahun. Setelah itu, ia kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Regina Pacis, Jakarta.
Saat bersekolah di tingkat SMA, ia pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, di mana ia melanjutkan studi arsitektur dan perancangan kota di Universitas Harvard, dan lulus pada tahun 1994.
Pria berusia 53 tahun ini pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan menggantikan Rahmat Gobel pada tahun 2015, dan selanjutnya menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dari 27 Juli 2016 hingga 20 Oktober 2019.
Meskipun bukan seorang politikus, Thomas Lembong adalah pendiri Consilience Policy Institute yang beroperasi di Singapura. Lembaga ini berfungsi sebagai wadah pemikir yang mengadvokasi kebijakan ekonomi internasional dan reformasi di Indonesia.
Editor : Firda Rachmawati


