Rawa Hilang Banjir Datang
DAHULU rawa, kini menjadi permukiman padat. Perubahan itu membuat air kehilangan ruang dan banjir pun lebih mudah datang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Rizki Mauludi
Hujan turun, air mencari jalan. Namun, ketika jalan air tak lagi cukup menampung alirannya, permukaan tanah menjadi tempat berikutnya untuk menampung limpahan.
Kondisi itulah yang masih dihadapi warga Perumahan Tamansari Persada, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Banjir belum sepenuhnya hilang karena sistem drainase dan saluran air di kawasan tersebut masih perlu diperkuat.
Pemerintah Kota Bogor pun memilih bergerak bertahap. Drainase dibangun, saluran dinormalisasi, dan endapan yang mengurangi daya tampung air terus dikeruk.
Lurah Cibadak Herry Chaerudin mengatakan, pada 2025 Pemkot Bogor telah menyelesaikan pembangunan drainase sepanjang sekitar 500 meter. Tahap berikutnya diarahkan hingga ke bagian hilir yang berbatasan dengan Kelurahan Mekarwang.
"Setelah membangun drainase sekitar 500 meter pada 2025, Pemkot Bogor berencana melanjutkan pembangunan hingga area hilir," kata Herry saat ditemui di kawasan Tamansari Persada, Senin (10/8).
Pembangunan infrastruktur saja, menurut Herry, belum cukup. Saluran air yang telah dibangun harus terus dirawat agar fungsinya tidak kembali terganggu oleh lumpur, sedimentasi, maupun sampah.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor secara rutin melakukan pengerukan dan normalisasi setu. Material lumpur dan sedimen dikeluarkan, sedangkan sampah diangkut menuju tempat pembuangan akhir.
"Normalisasi dilakukan untuk menjaga daya tampung air tetap optimal," ujarnya.
Persoalan banjir di Tamansari Persada tidak terlepas dari perubahan wajah kawasan tersebut. Dahulu, wilayah itu merupakan kawasan rawa yang memiliki kemampuan alami untuk menampung air.
Seiring perkembangan kota, bangunan tumbuh dan ruang terbuka yang berfungsi sebagai daerah resapan semakin berkurang.
Ketika hujan datang, air pun memiliki lebih sedikit ruang untuk meresap ke dalam tanah. Sebagian akhirnya bergerak menuju permukaan dan saluran yang tersedia.
"Daerah ini dahulu kawasan rawa. Setelah banyak bangunan berdiri, serapan air berkurang sehingga air tumpah ke permukaan," kata Herry.
Berbagai intervensi pemerintah disebut mulai memberikan hasil. Banjir yang sebelumnya kerap terjadi dapat ditekan, meski belum sepenuhnya bisa dihilangkan.
Sebab persoalan di kawasan itu tidak sederhana. Tiga sumber sungai mengalir menuju satu saluran, sementara jalur keluarnya hanya satu.
"Kalau untuk banjir sampai nol sama sekali mungkin belum bisa, karena ada tiga sumber sungai yang masuk, sementara keluarannya hanya satu," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat penanganan banjir membutuhkan waktu dan pekerjaan yang berkelanjutan. Pembangunan drainase tidak bisa berdiri sendiri tanpa normalisasi dan pemeliharaan saluran.
Pemkot Bogor sejauh ini telah mengalokasikan sekitar Rp6 miliar untuk berbagai intervensi penanganan di kawasan tersebut. Pekerjaan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kebutuhan dan kondisi lapangan. (gin)
Editor : Inilahkoran


