Realisasikan Ketahanan Pangan, Desa Kayu Ambon Budidayakan Kentang Granola
Sebagai salah satu desa yang berada di wilayah yang mayoritas penduduknya bergelut dalam bidang pertanian, Pemerintah Desa (Pemdes) Kayu Ambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) punya cara tersendiri untuk menjaga ketahanan pangan dari mulai tingkat desa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Sebagai salah satu desa yang berada di wilayah yang mayoritas penduduknya bergelut dalam bidang pertanian, Pemerintah Desa (Pemdes) Kayu Ambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten bandung Barat (KBB) punya cara tersendiri untuk menjaga ketahanan pangan dari mulai tingkat desa.
Salah satunya dengan melakukan kolaborasi dengan petani di Desa Kayu Ambon untuk melakukan budidaya kentang granola dengan menggunakan teknologi sistem aeroponik. Sebab, budidaya kentang granola dipercaya bisa lebih produktif, serta memiliki kualitas yang lebih tinggi.
"Sistem aeroponik sudah hampir terlupakan khususnya di wilayah Lembang, namun dengan adanya program Ketahanan Pangan Desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), sistem yang semula terealisasi secara parsial kini mulai kembali dikembangkan," ujar Pendamping Desa Kecamatan Lembang, Hana Kusumaningtyas kepada wartawan.
Oleh karenanya, sambung dia, pihaknya mencoba memberikan peluang dan kepercayaan kepada pengelola yang memang memiliki kompetensi.
"Dengan begitu, mereka diharapkan mampu mengelola anggaran ketahanan pangan melalui tema dan konsep kentang granola," terangnya.
Ia menyebut, dipilihnya budidaya kentang granola melalui sistem aeroponik lantaran sebagian besar masyarakat di Lembang sudah berpengalaman dalam budidaya kentang.
Oleh karena itu, sambung dia, melalui program Ketahanan Pangan Desa, budidaya kentang granola dipilih namun dengan sistem yang lebih ramah lingkungan.
"Jadi dengan sistem aeroponik ini, bertani kentang bisa lebih maksimal hasilnya dan juga prosesnya juga jadi lebih efektif," paparnya.
Meski begitu, lanjut dia, lantaran program aeroponik kentang granola berasal dari dana desa, maka sistem kerjasama antara desa yang diwakili kepala desa dengan kelompok petani disepakati dengan pembagian hasil 30 persen untuk kas desa dan 70 persen untuk pengelola (kelompok tani).
"Pengelola lebih besar karena memang ada operasional yang harus mereka keluarkan setiap harinya," ujarnya.
"Sementara 30 persen untuk desa akan dipergunakan untuk mengembangkan konsep serta sistem pertanian ini disamping untuk penanganan masalah gizi masyarakat dalam rangka pencegahan kasus stunting," sambungnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Desa Kayuambon, Hendra Gunawan menambahkan, dengan sistem pertanian konvensional, rata-rata satu pohon kentang dapat menghasilkan umbi yang berkisar antara tiga sampai enam umbi.
Namun, dengan sistem aeroponik, produktivitasnya lebih tinggi dimana, satu tanaman kentang granola bisa menghasilkan 10 hingga 30 umbi.
"Biaya produksi untuk sistem aeroponik ini rata-rata Rp5.000 sampai Rp 7.000 pertanaman tapi Alhamdulillah, keuntungannya itu bisa mencapai 100 sampai 150 persen," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : JakaPermana

