Robert Gerah Dituding Serakah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Muhammad Ginanjar
INILAH, Bandung- Robert Alberts akhirnya buka-bukaan soal sengketa dengan mantan timnya Persib Bandung. Dia gerah terus ditempatkan sebagai pihak yang salah.
Pelatih berdarah Belanda itu merasa perlu menyampaikan banyak hal terkait persoalan yang membuat Persib terkena sanksi FIFA. Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Robert mengaku selama ini telah banyak memendam kegelisahan lantaran enggan problem pribadi mencuat ke publik. permasalahan ini cukup lama.
Bagi Robert, pilihan terbaik yang harus dia tempuh adalah mengikuti proses yang tepat secara regulasi serta membiarkan FIFA turun menanganinya.
“Tapi baru-baru ini, saya telah melihat dan mendengar komentar-komentar dari orang-orang yang jelas tidak tahu ceritanya, dan mereka mulai menyalahkan keluarga saya serta diri saya sendiri. Dan sejujurnya, itu tidak baik dan tidak adil juga. Jadi, itulah alasan mengapa saya akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Robert, Rabu (12/8).
Pelatih asal Belanda ini menjelaskan pada tahun 2021, dia menandatangani perjanjian dengan Persib dengan durasi kontrak hingga Mei 2025. Namun pada 2022 dia harus mengundurkan diri setelah mendapat desakan dari Bobotoh.
“Penting untuk dicatat bahwa saya tidak pernah dipecat pada saat itu, melainkan saya mengundurkan diri dari posisi saya sebagai pelatih kepala. Hal ini juga berkat hubungan baik dengan manajemen pada saat itu,” katanya.
Robert membeberkan saat itu manajemen Persib selalu transparan dan berupaya menyelesaikan masalah pembayaran. Namun terjadi perubahan setelah ditangani manajemen baru.
“Pada Januari 2025, saya secara pribadi bertemu dengan Adhitia (Deputy CEO PT PBB) dari manajemen baru. Kami duduk berhadapan, mencoba menyelesaikan semuanya bersama-sama, sebuah solusi yang seharusnya lebih baik bagi kedua belah pihak,” katanya.
Robert pun mengaku tertarik untuk membantu klub karena memahami situasi yang dialami. Hingga akhirnya kesepakatan terjalin, dimana Persib akan melakukan cicilan dari Maret hingga Desember 2025.
“Sebenarnya, saya setuju untuk mengurangi jumlah awal, dan saya bersedia berkompromi, menerima kurang dari jumlah kontrak asli karena saya juga memahami situasi klub dan benar-benar berusaha membantu Persib juga. Jadi ini bukan situasi di mana saya tiba-tiba menuntut sesuatu yang tidak masuk akal dari klub,” tuturnya.
Namun Robert geram lantaran manajemen Persib dalam pernyataannya menyebutkan tidak tahu menahu soal persoalan ini.
“Saya merasa sulit untuk memahaminya karena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan klub. Izinkan saya mengingatkan Anda bahwa kita telah mengadakan pertemuan pada Januari 2025 di mana kita telah menyelesaikan masalah-masalah ini,” kesalnya.
Robert memastikan manajemen Persib sudah mengetahui mengenai pengaturan pembayaran, termasuk yang sempat tertunda hingga akhirnya FIFA mengeluarkan keputusan.
“FIFA telah menentukan bahwa Persib memiliki kewajiban yang belum diselesaikan kepada saya dan memerintahkan pembayaran tahun lalu. Ketika pembayaran masih belum dilakukan oleh Persib, konsekuensi dibawah proses FIFA pun mengikuti, termasuk sanksi pendaftaran tahun lalu. Setelah FIFA memerintahkan sanksi tersebut tahun lalu, Persib segera membayar saya, tetapi itu baru sebagian dari pembayaran. Masih banyak bulan-bulan lainnya yang harus dibayarkan hingga Desember 2025,” bebernya.
Robert mengaku sudah mencoba menyelesaikan permasalahan ini secara langsung sepanjang waktu dan menghubungi manajemen Persib untuk mendapatkan penjelasan.
“Saya tidak pergi ke media sama sekali. Jadi, ketika orang-orang mengatakan itu adalah keserakahan, atau upaya untuk merugikan klub, atau entah bagaimana saya yang bertanggung jawab atas situasi ini, saya rasa penting bagi orang-orang untuk mengetahui fakta-faktanya terlebih dahulu baru kemudian mulai berbicara mengenai apa yang mereka anggap benar dan salah,” jelasnya.
Maka dari itu, Robert merasa perlu memberikan penjelasan mengenai persoalannya dengan Persib. Sebab kesepakatan sudah dibuat dengan manajemen Persib yang baru pada Januari 2025.
Gerak Cepat Di sisi lain, Persib Bandung tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan persoalan dengan Robert.
Deputi CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan bernafas lega. Sanksi FIFA yang melilit timnya akibat sengketa dengan Alberts kini telah resmi dicabut.
Kepastian tersebut disampaikan melalui surat resmi FIFA bertanggal 11 Agustus 2026 dengan Ref. No. FDD-28859.
Dalam surat tersebut, FIFA menyatakan bahwa proses perkara terhadap Persib telah ditutup setelah menerima konfirmasi bahwa Robert Rene Alberts telah menerima jumlah yang menjadi kewajiban Persib sesuai dengan keputusan yang menjadi dasar perkara.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan mengucapkan rasa syukurnya permasalahannya dengan Robert Rene Alberts telah berakhir.
“Alhamdulillah, kami bersyukur proses ini telah diselesaikan dengan baik. Setelah mengetahui adanya keputusan FIFA terkait perkara lama yang berkaitan dengan periode 2022, kami langsung menentukan langkah yang diperlukan dan menyelesaikan kewajiban pembayaran sesuai dengan mekanisme yang berlaku. FIFA kemudian secara resmi menyatakan proses perkara ini telah ditutup dan FIFA Registration Ban terkait perkara tersebut telah dicabut secara permanen,” ujar Adhitia, Rabu (12/8).
Adhitia menilai penyelesaian tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab klub dalam menghormati setiap keputusan regulator sekaligus menjaga tata kelola Persib sebagai klub sepak bola profesional.
“Bagi kami, setiap keputusan regulator harus dihormati dan ditindaklanjuti secara bertanggung jawab. Ketika terdapat kewajiban yang harus diselesaikan, kami menentukan prioritas dan mengambil langkah yang diperlukan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Prinsip ini menjadi bagian dari komitmen kami dalam menjaga profesionalisme dan tata kelola Persib,” katanya.
Penyelesaian perkara tersebut juga, lanjutnya, sekaligus mencerminkan pendekatan manajemen Persib dalam menghadapi setiap dinamika yang berkaitan dengan klub, dengan mengedepankan pertimbangan yang rasional, objektif, dan terukur.
Dengan berakhirnya permasalahan tersebut, Adhitia memastikan Persib kini dapat kembali memusatkan perhatian pada persiapan tim menghadapi kompetisi musim 2026/2027.
“Saat ini fokus kami adalah mempersiapkan tim menghadapi musim 2026/2027. Kami ingin seluruh energi dan perhatian klub diarahkan pada persiapan kompetisi, sehingga tim dapat tampil sebaik mungkin dan memberikan prestasi yang membanggakan bagi Bobotoh,” katanya.
Adhitia mewakili Manajemen Persib menyampaikan apresiasi kepada seluruh Bobotoh yang terus memberikan kepercayaan dan dukungan selama proses penyelesaian berlangsung.
“Kami memahami bahwa setiap perkembangan mengenai Persib selalu menjadi perhatian. Karena itu, kami berkomitmen untuk menangani setiap kewajiban dan tantangan klub secara cepat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” pungkasnya.
Awal Masalah Sengketa ini bermula dari sebuah perjanjian pembayaran yang disepakati Persib dan Robert pada 18 Februari 2025. Dalam kesepakatan tersebut, Persib berkewajiban membayar total Rp3 miliar kepada Robert melalui 10 kali cicilan.
Pembayaran Rp1,8 miliar dilakukan secara bertahap sebesar Rp225 juta per bulan mulai Maret hingga Oktober 2025, sedangkan Rp1,2 miliar sisanya dibayarkan masing-masing Rp600 juta pada November dan Desember 2025.
Namun, persoalan muncul ketika pembayaran cicilan pertama tidak diterima secara penuh. Pada 21 Maret 2025, Persib hanya membayarkan Rp93.749.500 kepada Robert.
Sang pelatih kemudian mempersoalkan adanya pemotongan sebesar Rp131.250.500 yang disebut berkaitan dengan peningkatan kelas penerbangan dari ekonomi menjadi bisnis.
Robert kemudian mengajukan gugatan ke FIFA pada 4 Juni 2025. Ia menuntut Persib membayar tunggakan sebesar Rp581.250.000 yang terdiri dari kekurangan pembayaran Maret sebesar Rp131.250.000 serta cicilan April dan Mei masing-masing Rp225 juta, ditambah bunga lima persen per tahun. (Muhammad Ginanjar/bsf) Dalam proses persidangan, Persib tidak memberikan tanggapan terhadap gugatan tersebut. Kamar Status Pemain FIFA kemudian memeriksa perkara berdasarkan bukti-bukti yang diajukan Robert, termasuk komunikasi dengan perwakilan Persib yakni dengan Stanley Bernard yang disebut sebagai Direktur Olahraga Persib terkait persoalan pembayaran dan peningkatan kelas penerbangan.
Hakim Tunggal Kamar Status Pemain FIFA menilai kesepakatan mengenai peningkatan kelas penerbangan memang telah dibuat oleh kedua pihak. Namun, biaya peningkatan tersebut tidak seharusnya dipotong dari pembayaran cicilan Maret 2025. Karena itu, FIFA menyatakan Persib masih memiliki kewajiban pembayaran kepada Robert.
Dalam putusannya, FIFA mengabulkan sebagian gugatan Robert. Persib diwajibkan membayar Rp131.250.000 dengan bunga lima persen per tahun sejak 16 Maret 2025, kemudian Rp225 juta dengan bunga lima persen sejak 16 April 2025, serta Rp225 juta dengan bunga lima persen sejak 16 Mei 2025 hingga seluruh pembayaran dilunasi.
FIFA tidak mengabulkan tuntutan Robert terkait cicilan-cicilan berikutnya yang belum jatuh tempo ketika gugatan diajukan pada 4 Juni 2025. Meski demikian, FIFA menegaskan hal tersebut tidak menghilangkan hak Robert untuk mengajukan gugatan baru apabila Persib tidak memenuhi kewajiban pembayaran cicilan yang tersisa.
Hasilnya, Persib diberikan waktu 45 hari sejak pemberitahuan keputusan untuk melunasi seluruh kewajiban beserta bunga. Jika tidak dipenuhi, FIFA dapat menjatuhkan sanksi larangan mendaftarkan pemain baru, baik di tingkat nasional maupun internasional, hingga maksimal tiga periode pendaftaran pemain penuh dan berturut-turut. Perkara juga dapat diteruskan kepada Komite Disiplin FIFA apabila kewajiban tetap tidak dibayar. (bsf)
Editor : Inilahkoran

