Semangat Nyata Tentang Swadaya dari Rancakuda
GERAKAN tanpa pamrih itu rupanya masih hidup di tengah-tengah masyarakat. Apa yang terjadi di Kampung Rancakuda jadi contoh nyata.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Agus Setia Negara
GERAKAN tanpa pamrih itu rupanya masih hidup di tengah-tengah masyarakat. Apa yang terjadi di Kampung Rancakuda jadi contoh nyata.
Di bawah terik matahari, suara gemuruh mesin pengaduk semen berpadu riuh dengan tawa dan peluh warga di Kampung Rancakuda, Desa Citapen, Kecamata Cihampelas, Sabtu (8/8) lalu. Mereka seperti sedang mempertontonkan panggung gotong-royong yang sesungguhnya.
Semangat mereka didasari rasa lelah menanti kucuran dana pembangunan yang tak kunjung tiba akibat keterbatasan anggaran desa. Masyarakat di sana, akhirnya mengambil tindakan nyata menggalang dana swadaya hingga mencapai Rp40 juta untuk mengecor jalan sepanjang 120 meter yang rusak parah.
“Desa juga sudah tidak dapat membangun infrastruktur seperti sebelumnya karena anggaran desa sudah tidak ada lagi untuk membangun jalan kampung,” kata Kepala Desa Citapen, Iwan Kristiawan, Rabu (12/).
Jalan setapak dengan lebar sekitar 2,5 meter tersebut bukan sekadar jalur penghubung biasa. Posisinya sangat strategis karena berada tepat di perbatasan antara Desa Citapen dan Desa Cihampelas.
Jalan itu adalah urat nadi aktivitas harian sekaligus penggerak ekonomi warga kedua wilayah. Namun, kondisi jalan yang berlubang dan berlumpur saat hujan sering kali menjadi momok bagi para pengendara yang melintas.
Iwan menilai, inisiatif warga ini sekaligus menjadi cermin nyata di saat anggaran desa tak memadai, semangat gotong royong menjadi jembatan yang mengisi kekosongan.
Ia menyebut, Pemerintah Desa tetap turut mendukung dengan meminjamkan dua unit mobil pikap untuk mengangkut material beton ke lokasi, mengingat truk molen tak dapat masuk hingga titik pekerjaan karena akses yang sempit.
"Dukungan ini memungkinkan pengecoran tetap berjalan meskipun kondisi medan cukup menantang," sebutnya.
Ketua pelaksana pekerjaan, Asep Eot menjelaskan, seluruh dana Rp40 juta terkumpul dari sumbangan sukarela masyarakat dan donatur, di mana sumbangan terbesar berasal dari Haji Emuh serta kontribusi warga lainnya.
“Saya memohon maaf kepada warga karena sementara jalan ditutup untuk dilakukan pengecoran,” kata Asep.
Asep mengaku sangat bersyukur dengan kebaikan hati para donatur serta partisipan yang mewujudkan perbaikan jalan tersebut.
"Dengan penuh kerendahan hati, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi, baik berupa dana maupun tenaga," sambungnya.
Meski begitu, Asep mengakui masih ada bagian-bagian jalan lain yang membutuhkan perbaikan, dan karena lokasinya berada di perbatasan dua desa, penanganan menyeluruh memerlukan perhatian.
"Termasuk koordinasi lintas wilayah yang lebih luas, bukan sekadar swadaya warga semata," pungkasnya. (bsf)
Editor : Inilahkoran

