Rumah Dama Kara Sukses Membantu Penyandang Disabilitas untuk Berkarya dan Mandiri Melalui Batik
Rumah Darna Kara sendiri didirikan oleh Dini dan Oscar suaminya di Jalan Bengawan Kota Bandung sejak 2020 lalu, dan sukses menjadi tempat menjual batik dengan berbagai motif hasil karya kawan-kawan istimewa. Rumah Darna Kara sendiri didirikan oleh Dini dan Oscar suaminya di Jalan Bengawan Kota Bandung sejak 2020 lalu, dan sukses menjadi tempat menjual batik dengan berbagai motif hasil karya kawan-kawan istimewa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Semangat ingin membantu Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK) agar bisa berkarya dan mandiri, Rumah Dama Kara sudah menghasilkan beragam karya, terutama Batik.
Rumah Darna Kara sendiri didirikan oleh Dini dan Oscar suaminya di Jalan Bengawan Kota Bandung sejak 2020 lalu, dan sukses menjadi tempat menjual Batik dengan berbagai motif hasil karya kawan-kawan istimewa.
Salah satu kunci keberhasilan pasangan suami istri (pasutri) ini adalah memanfaatkan media sosial dan market place untuk memasarkan Batik i hasil karya dari kawan-kawan istimewa ini.
“Awalnya saya sama suami berpikir ingin membuat sesuatu yang ada nilai kebermanfaatan. Semula kami mau beli mobil Ambulance, tapi enggak jadi. Lalu saya melihat di internet tentang kisah hidup seorang berkebutuhan khusus di Inggris, oleh orang tuanya diberikan terapi menggambar agar motoriknya terus bekerja dan cara menyalurkan emosinya, ternyata hasil gambarnya bagus,” kata Dini di Rumah Dama Kara Jalan Bengawan Kota Bandung, Selasa 11 Maret 2025.
Kemudian, Dini dan suaminya mencari berbagai informasi mengenai orang-orang spesial di Indonesia seperti apa. Keduanya mendatangi banyak yayasan atau lembaga di Indonesia khususnya di Bandung yang memang concern terhadap anak atau orang berkebutuhan khusus.
Kata dia, berdasarkan informasi yang mereka peroleh dari salah seorang Sosiolog, jumlah orang-orang istimewa baik anak maupun dewasa di Indonesia itu, bisa jadi lebih banyak dari jumlah yang terdata oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Karena dimasyarakat tradisional itu masih ada yang menyembunyikan dan masih ada yang enggak dikeluarin (disembunyikan karena malu), padahal kan Alloh SWT itu maha adil menciptakan kita semua itu pasti ada kekurangan dan kelebihan. Enggak mungkin cuma kekurangan ajah, cuma mereka dilabelin dengan kekurangannya saja. Jadi kita ingin melalui Dama Kara ini bisa menjadi ruang berkarya bagi mereka,” ujar Dini.
Dipilhnya Batik sebagai media untuk berkarya anak-anak istimewa ini,lanjut Dini, karena Batik ini sebenarnya bagus. Namun sayangnya orang-orang memakai baju Batik hanya sebatas acara resmi dan pergi ke undangan hajatan saja. Dalam sebulan, seseorang paling banyak empat kali saja memakai pakaian Batik.
“Saya dan suami “turun gunung” mendatangi para perajin Batik dibeberapa daerah. Kebanyakan dari mereka itu sudah berumur, jadi kalau ingin ada regenerasi berarti permintaan batuk harus banyak. Kan kalau seseorang hanya dipakai seminggu sekali dua atau tiga Batik, demand (permintaan) enggak akan banyak,” katanya.
Dini dan suamimya berpikir bagaimana baju Batik ini bisa dipakai oleh banyak orang sebagai pakaian sehari-hari. Tidak sebatas dipakai ke undangan dan acara-acara resmi saja. Maka motif Batik harus berkembang, tidak melulu itu-itu saja.
Selain itu, semangat Dama Kara adalah sebagian dari keuntungan penjualan Batik digunakan untuk mendukung kegiatan terapi bagi kawan-kawan istimewa agar dapat berkarya.
“Jadi di Dama Kara ini ada koleksi Batik dan ada juga Batik hasil kolaborasi dengan teman-teman istimewa, sekarang ini sudah ada sembilan orang kawan istimewa yang kolaborasi. Salah satunya yakni Haryo, seorang penyandang autisme, lalu sebelumnya ada juga Salma kawan istimewa tuna rungu dan beberapa orang lainnya,” kata Dini.
Menurut Dini, kawan-kawan istimewa ini diajarkan menggambar. Kemudian setelah jadi gambar yang terpilih dialihkan menjadi sebuah kain Batik dan dijahit menjadi pakaian. Ada yang jadi baju, jaket dan lain-lainnya. Bahkan, gambar hasil karya kawan-kawan istimewa ini juga tak hanya dijadikan kain atau pakaian Batik saja, ada juga yang dijadikan gantungan kunci, hiasan dinding dan lainnya.
Dengan begitu, terjadi sebuah siklus yang berkelanjutan, mulai dari mereka diberikan suport pelatihan atau terapi menggambar cuma-cuma, lalu berkarya dan mendapatkan royalty dari hasil penjualan karya mereka itu sendiri.
“Salah satu karyanya adalah artikel jaket Ronabian. Artikel Ronabian di market place Shopee, laku sampai lebih dari 4000 pcs. Jadi memang potensi dari kawan-kawan istimewa ini sangat luar biasa, dan mereka menggambar sesuai dengan keinginan dan caranya masing-masing, seperti ada yang menggambar dengan media air (teknik sumigasi), ada juga yang suka menggambar dengan lampu yang redup, ada yang sukanya sambil mendengarkan musik dan lain-lain,” katanya.
Dini menjelaskan, selama ini Dama Kara bekerjasama dengan beberapa yayasan yang concern terhadap mereka. Dama Kara memberikan suport dengan menyisihkan sebagian keuntungan dari penjualan Batik ditempatnya itu untuk terapi motorik mereka, salah satunya yakni pelatihan menggambar. Seiring berjalannya waktu, Dama Kara kini telah memiliki yayasan tersendiri, yakni Dama Kara Foundation.
“Kami ada kerjasama dengan beberapa yayasan. Lalu sudah empat tahun ini kami mendirikan yayasan sendiri, yakni Dama Kara Foundation. Jadi kami ada kelas untuk kawan-kawan istimewa ini terapi, dengan mengatangkan guru yang kami biaya sepenuhnya,” ujarnya.
Dalam memasarkan produk batiknya ini, lanjut Dini, semula ia memanfaatkan media sosial Istagram dan aplikasi percakapan What Apps. Berbagai produk pakaian Batik Dama Kara diunggah di Istagram dan dibagikan digrup-grup What Apps, lalu calon pembeli memesan melalui fitur pesan Istagram dan What Apps. Metode penjualam dengan menggunakan fasilitas kedua jenis media sosial berjalan lancar.
“Tapi sayangnya enggak ketahan karena banyak yang pesan, sampai pernah dalam satu hari kami menerima 800 pcs pesanan. Sedangkan admin media sosial kita cuma satu orang saat itu. Karena kewalahan dan banyak permintaan konsumen minta penjualan melalui market place Shopee, maka kami pun mulai jualan di Shopee pada 2021,” ujarnya.
Awalnya, lanjut Dini, penjualan melaui market place Shopee ini berjalan biasa saja alias tidak terlalu bagus. Tapi ia dan suami tak mau menyerah dan terus mempelajari berbagai strategi digital marketing. Usaha mereka mulai menampakan hasil, penerimaan order pun terus berdatangan. Hingga penjualan setiap bulannya bisa mencapai ribuan pcs. Bahkan, saking larisnya motif Batik yang dikeluarkan oleh Dama Kara dipasaran khususnya di market place banyak ditiru atau dipalsukan oleh pedagang toko online lainnya.
“Alhamdulilah dari semula kami mulai Dama Kara ini hanya dengan modal Rp 15 juta, kini kami bisa mempekerjakan puluhan orang dan ada dua toko offline, yakni di Jalan Bengawan dan di Jalan Cihapit. Tapi yang terpenting dari itu semua adalah kebermanfaatannya, yakni kami bisa menggandeng kawan-kawan istimewa untuk berkarya, sehingga mereka bisa mandiri dan menunjukan kemampuannya atau kelebihannya kepada semua orang,” katanya. ***.
Editor : Ahmad Sayuti


