Salametan Cai dan Melak Tangkal, Ketika Tradisi dan Alam Bersatu di Bandung Barat
Di tengah hiruk pikuk modernitas, sebuah tradisi luhur kembali dihidupkan di Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Masyarakat setempat, bersama tokoh adat dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), menggelar Salametan Cai dan Melak Tangkal di Lapangan Kampung Ciwangun RW 15, tepat di depan Wana Wisata Curug Bugbrug.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Di tengah hiruk pikuk modernitas, sebuah tradisi luhur kembali dihidupkan di Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Masyarakat setempat, bersama tokoh adat dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), menggelar salametan cai dan Melak Tangkal di Lapangan Kampung Ciwangun RW 15, tepat di depan Wana Wisata Curug Bugbrug.
Sebuah perayaan yang bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga wujud nyata kecintaan terhadap alam dan budaya.
Mengusung tema "Ka Cai Jadi Saleuwi Ka Darat Jadi Salogak – Babareungan Sauyunan Mupusti Paparin Ti Gusti Nu Maha Widi, Pamugi Cai Tetep Lestari Pangjadi Jiwa Walagri" (Bersatu dalam Kebersamaan Menjaga Anugerah Tuhan, Semoga Air Tetap Lestari Menjadi Sumber Kehidupan), acara ini menjadi momen tasyakuran atas air sekaligus aksi nyata penanaman pohon.
Lebih dari sekadar melestarikan alam, kegiatan ini bertujuan mempererat tradisi budaya dan solidaritas antarwarga.
Suasana khidmat terasa saat para tokoh adat memimpin jalannya ritual. Lantunan doa-doa mengiringi setiap prosesi, memohon keberkahan dan kelestarian alam. Warga pun tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara, menunjukkan semangat gotong royong yang masih kental terasa di desa ini.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat, Asep Dendih, yang hadir langsung, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif masyarakat Cihanjuang Rahayu.
"Acara ini sangat luar biasa. Kami memberikan apresiasi karena air merupakan sumber kehidupan, begitu juga pohon. Ini kolaborasi yang luar biasa antara pelestarian alam dan budaya, sejalan dengan program gubernur dan bupati," kata Asep Dendih.
Asep menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan alam. Ia berharap kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi seremonial belaka, tetapi menjadi agenda rutin yang terus dikembangkan.
"Selain aspek lingkungan, ini juga bisa dikaitkan dengan pelestarian budaya dan promosi wisata daerah," katanya.
Menurutnya, sinergi lintas sektor sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Disparbud bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) siap berkolaborasi untuk mendukung pelestarian lingkungan sekaligus menunjang akses pariwisata.
"Wisatawan akan datang kalau infrastrukturnya baik. Jadi pelestarian alam juga harus sejalan dengan pembangunan akses jalan," tambahnya.
Ketua LMDH Cihanjuang Rahayu, Asep Yudi, mengungkapkan rasa syukurnya karena kegiatan adat ini dapat kembali digelar setelah sempat vakum beberapa tahun.
"Alhamdulillah, setelah beberapa tahun tidak diselenggarakan, kegiatan salametan cai dan Melak Tangkal bisa kembali kami adakan. Ini bentuk komitmen kami meneruskan perjuangan pengurus terdahulu," kata Asep.
Asep menjelaskan bahwa pihaknya turut menggandeng para pengguna air untuk berkolaborasi menjaga hutan dan sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
"Kami berterima kasih kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang telah hadir dan memberi dukungan. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa terus dilaksanakan setiap tahun," pungkasnya.***
Editor : JakaPermana


