Seragam Baru Menyulam Asa Keluarga
SERAGAM sekolah baru bukan hal biasa bagi semua anak. Lia Maharani harus menunggu bertahun-tahun untuk memilikinya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Bagi banyak orang tua, membeli seragam sekolah baru adalah rutinitas setiap tahun ajaran dimulai. Namun bagi Titin Lestari, itu adalah kemewahan yang selama bertahun-tahun tak pernah mampu dia berikan kepada putrinya, Lia Maharani.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menamatkan SMP, Lia selalu mengenakan seragam bekas. Ada yang kebesaran, ada pula yang kekecilan. Semuanya berasal dari uluran tangan para tetangga.
Perempuan asal Kelurahan Combongan, Kabupaten Sukoharjo itu sehari-hari membuat sekaligus menjual kerupuk bawang.
Dari pekerjaannya, dia membawa pulang penghasilan bersih sekitar Rp46 ribu per hari. Sementara suaminya, Misju, bekerja sebagai buruh tani serabutan. Penghasilan itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah keterbatasan itu, Titin tak pernah berhenti berharap anaknya tetap bisa bersekolah.
"(Waktu) SD itu, saya dikasih sama tetangga saya. Saat SMP, saya sakit, enggak bisa membelikan seragam sekolah. Terus dikasih sama tetangga saya. Ada tiga orang yang saya minta itu. Ada yang kekecilan, ada yang kebesaran," tutur Titin saat berdialog dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam kegiatan Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Sukoharjo, Jawa Tengah, seperti dikutip dari ANTARA.
Kini, untuk pertama kalinya, Lia mengenakan seragam sekolah baru. Momen sederhana itu menghadirkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan Titin. Matanya berkaca-kaca saat melihat putrinya berdiri dengan seragam baru yang selama ini hanya menjadi angan.
"Saya senang, bangga anak saya nanti bisa mendapatkan seragam baru, Pak, dari sini (Sekolah Rakyat). Untuk anakku, semangat ya, Nduk. Jangan pernah menyerah, masa depan ada di depan mata, lihatlah orang tuamu," katanya terharu sambil memeluk Lia.
Suasana dialog mendadak hening. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, bersama para tamu undangan tampak tak kuasa menahan haru. Kisah Titin menjadi gambaran bahwa bagi sebagian keluarga, bantuan pendidikan bukan sekadar soal biaya sekolah, tetapi juga menghadirkan kembali harapan.
Menurut Gus Ipul, Sekolah Rakyat memang dihadirkan untuk menjangkau keluarga-keluarga yang selama ini berada pada lapisan sosial ekonomi paling bawah.
"Ini adalah persembahan Bapak Presiden Prabowo, kepada keluarga-keluarga yang secara sosial ekonomi berada di paling bawah," kata Gus Ipul.
Dia menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang masuk Desil 1 dan Desil 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dikelola Badan Pusat Statistik. Karena itu, program ini tidak membuka pendaftaran secara umum, melainkan menggunakan sistem penjangkauan berbasis data.
"Keluarga bapak-ibu sekalian dijangkau berbasis data, dilihat kondisi objektifnya, kalau memang memenuhi syarat langsung bisa diterima di Sekolah Rakyat, setelah ditetapkan oleh kepala daerah, bupati, walikota, atau gubernur," ujarnya. (gin)
Editor : Inilahkoran


