Sikap Kami: Berani Tambah Ranjang?
TENTU saja, ini kabar menggembirakan. Di Kota Bandung bakal ada rumah sakit khusus kanker. Dibangun Universitas Padjadjaran dan Pertamina Bina Medika IHC di kawasan Dipatiukur, Kota Kembang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
TENTU saja, ini kabar menggembirakan. Di Kota Bandung bakal ada rumah sakit khusus kanker. Dibangun Universitas Padjadjaran dan Pertamina Bina Medika IHC di kawasan Dipatiukur, Kota Kembang.
Pertama, tentu saja, kehadiran rumah sakit tersebut akan melengkapi fasilitas layanan kesehatan bagi masyarakat Jawa Barat. Terlebih, selama ini, kita belum punya rumah sakit khusus kanker. Agak tertinggal dibandingkan Jakarta dan Surabaya.
Rumah sakit ini menjadi penting karena kanker saat ini merupakan 10 besar penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia. Di dunia, dia malah jadi penyakit pembunuh kedua. Tahun 2022 saja, ada 400 ribu kasus kanker di Tanah Air. Yang cukup menyedihkan, salah satu yang cukup tinggi adalah kanker payudara dan serviks.
Di Jawa Barat, bukan berarti tak ada layanan cukup mumpuni untuk penanganan penyakit kanker. Tahun 2017 lalu, di rumah sakit daerah milik Pemprov Jawa Barat, RSUD Al Ihsan, sudah berdiri Pusat Pelayanan Kanker yang diresmikan Gubernur (saat itu) Ahmad Heryawan.
Tetapi memang, kita butuh rumah sakit yang semata-mata berfokus pada penanganan kanker. Sebab, pertumbuhan penderitanya naik cukup cepat. Selain untuk penanganan dan pengobatan, kita berharap rumah sakit khusus kanker itu juga bisa menjadi ruang untuk melakukan riset.
Tetapi, tak kalah penting sesungguhnya adalah upaya untuk memenuhi layanan kesehatan secara umum. Salah satu persoalan yang dihadapi Jawa Barat adalah masih rendahnya rasio tempat tidur rumah sakit.
Ketentuan Badan Dunia Kesehatan (WHO), setiap seribu orang membutuhkan satu tempat tidur rumah sakit. Artinya, untuk Jawa Barat dengan 50 juta penduduk, perlu 50 ribu tempat tidur. Selain belum terpenuhi, juga persebarannya yang tak merata. Tentu saja, ini juga persoalan serupa yang dihadapi di banyak wilayah lain karena rumah sakit biasanya fokus di wilayah kota.
Dalam kaitan ini, Pemprov dan Dinas Kesehatan Jawa Barat, juga Pemkab/Pemkot dan Dinkes setempat, perlu turun tangan. Langkah-langkah seperti yang dilakukan Unpad layak ditiru. Menyediakan lahan dan melakukan kerja sama dengan pihak ketiga.
Upaya ini sebenarnya pernah coba dilakukan Ridwan Kamil saat masih jadi Gubernur Jabar. Dia berupaya menggandeng investor kesehatan Australia untuk pemenuhan faskes tersebut. Hanya saja, sampai meninggalkan Gedung Sate, kabar rencana tersebut tak lagi terdengar.
Cara-cara kolaborasi itu perlu dilanjutkan, siapapun gubernurnya, bupatinya, wali kotanya. Mungkin kapasitas tempat tidur tetap terjada di saat yang normal. Tapi, cukup mengerikan jika pandemi kembali terulang. Rasanya, kita harus siap-siap untuk itu. Sebab, situasi seperti itu, akan datang tanpa mengetuk pintu. (*)
Editor : Zulfirman

