Sikap Kami: Bukan Superman

BERKALI-KALI Prabowo Subianto menyebut dirinya bukan superman. Karena itu, dia membentuk kabinet yang terhitung gemuk. Karena itu, dia butuh kolaborasi.

Sikap Kami: Bukan Superman

BERKALI-KALI Prabowo Subianto menyebut dirinya bukan superman. Karena itu, dia membentuk kabinet yang terhitung gemuk. Karena itu, dia butuh kolaborasi.

Pemerintahan, di manapun, memang tak butuh superman. Yang dibutuhkan adalah superteam. Tim yang super itulah yang menjalankan roda pemerintahan secara bersama-sama, menghasilkan sistem pemerintahan yang solid dan berjalan dengan sempurna.

Setiap pihak memiliki fungsi. Dia berjalan dalam sebuah orkestrasi. Perlu konduktor, tapi bukan superman. Antara konduktor dan pemain peralatan musik, wajib sehati. Jika tidak, bisa berantakan. Tidak menghasilkan orkestrasi yang merdu.

Orkestrasi yang harmonis itu, diakui atau tidak, terlihat dalam pemerintahan di Pemprov Jawa Barat saat ini. Tengok saja sindiran Wakil Gubernur Erwan Setiawan tentang tidak hadirnya Sekda Jabar dalam rapat dengan DPRD beberapa waktu lalu.

Tentu, semua punya alasan. Sekda Jabar menyatakan dirinya ditugaskan Gubernur Dedi Mulyadi mendampingi kunjungan menteri. Adakah Wagub Erwan tahu? Sepertinya tidak. Kalau dia tahu, kenapa pula mengeluhkan tak hadirnya Sekda Jabar di rapat tersebut.

Bagaimana mungkin membangun sebuah orkestrasi yang indah jika pemain biola asyik sendiri, pemegang perkusi main dalam dunianya, peniup flute sering tertinggal. Sudah pasti tidak harmonis.

Maka, pemimpin, siapapun dia; presiden, gubernur, bupati, wali kota, harus menjadi konduktor yang baik itu. Bolehlah dia ikut memainkan piano, biola, atau apapun itu. Tapi, tetap harus ada dalam irama yang sama. Tak bisa melenceng dari kerja sama; kolaborasi.

Tetapi, itu yang terasa di Pemprov Jawa Barat saat ini. Itu pula, yang separuh buktinya, sudah terlihat dengan sindiran Erwan itu.

Tentu saja, kondisi ini tidak baik. Hanya akan memunculkan tumbuhnya duri-duri yang bisa mencederai pelayanan publik. Gubernur, Wakil Gubernur, Sekda, pejabat lainnya; harus kembali ke jalur orkestrasi. Harus menunjukkan kolaborasi yang jitu.

Pemprov Jabar, termasuk lembaga yang awal mengembangkan kolaborasi. Mereka sebut pentaheliks. Tapi, bagaimana mungkin berkolaborasi dengan pihak luar jika di antara mereka sendiri tak menunjukkan hasrat kolaborasi di antara sesama mereka?

Jabar tak butuh superman. Jabar butuh superteam. Yang menggerakkannya adalah pemimpin tertinggi. Maka, pemimpin tertinggi sepatutnya memikirkan bagaimana agar baut-baut yang ikut serta dalam kolaborasi superteam itu tak copot satu-satu.

Siapapun di Pemprov Jabar, kita sarankan berhenti untuk jadi superman. Bangunlah kerja sama utuh. Sebab, membangun Jabar, provinsi dengan wilayah luas, dengan penduduk terbanyak di Indonesia, tak bisa dilakukan satu-dua orang. Dia hanya bisa dilakukan bersama-sama. Dalam sebuah superteam. (*)


Editor : Zulfirman