Sikap Kami: Ironi Transportasi Jabar

SEKTOR transportasi menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Ironisnya, mereka tak hanya terabaikan, juga mendapat perlakuan yang kurang menguntungkan.

Sikap Kami: Ironi Transportasi Jabar

SEKTOR transportasi menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Ironisnya, mereka tak hanya terabaikan, juga mendapat perlakuan yang kurang menguntungkan.

Semua pihak di Jawa Barat, termasuk Gubernur Dedi Mulyadi, menyambut baik capaian pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2025. Angkanya 5,23% secara tahunan. Sementara secara triwulanan, juga tumbuh 2,33%.

Normal saja, dalam sebuah pertumbuhan positif, banyak pihak merasa ikut berkontribusi. Salah satu, misalnya, membawa-bawa biaya fiskal pemerintah. Tentu saja tak ada yang membantah. Hanya saja, bukankah hal tersebut berlangsung dari tahun ke tahun? Jadi, tak ada juga yang istimewa.

pertumbuhan ekonomi, sejatinya, dipacu oleh sektor usaha produksi. Sektor inilah yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Dalam istilah kekinian, ada “hilirisasi” berbagai produk dan jasa.

BPS Jawa Barat mencatat dari sisi produksi, bidang lapangan usaha jasa lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi. Angkanya sebesar 10,35%.

Apakah lapangan usaha jasa lainnya itu? Salah satunya jasa transportasi. Dia meliputi segala jenis pengangkutan seperti bus, truk, kapal, dan pesawat.

Ironis karena di sektor ini, Jawa Barat belum juga memiliki kemajuan, terutama dibandingkan wilayah tetangga. Tidak hanya pada infrastruktur, kebijakan yang ganjil juga membuat sektor transportasi tak bisa dibilang cemerlang.

Sistem transportasi umum di Jawa Barat, termasuk di wilayah Bandung Raya, jauh tertinggal. Kondisi jalan, terutama di wilayah kabupaten, juga banyak yang bermasalah.

Pertumbuhan sektor transportasi juga terhambat dengan larangan study tour yang diterapkan Gubernur Dedi Mulyadi. Akibatnya, tak sedikit pekerja sektor jasa transportasi, terutama untuk bus pariwisata, yang menganggur karenanya.

Ironis karena usaha transportasi wisata, berikut pekerjanya, terhitung banyak di Jawa Barat. Terutama karena Jawa Barat sendiri mengandalkan sektor pariwisata sebagai salah satu unggulannya.

Dalam konteks ini, kita menyarankan kepada Pemprov Jabar untuk mengkaji ulang seluruh kebijakan sektor transportasi. Sebab, selain bermakna bagi pertumbuhan ekonomi, juga menghidup banyak warga dan keluarganya.

Kebijakan larangan study tour, sebaiknya ditinjau ulang. Diatur sedemikian rupa sehingga tidak memberatkan pihak manapun, termasuk pelajar dan orang tua.

Hidupnya kembali wisata secara keseluruhan, kita yakini, akan membuat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat menjadi lebih kuat. (*)


Editor : Zulfirman