Sikap Kami: Menjaga BIJB Kertajati

PROYEK Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati itu proyek penting. Dia masuk program pembangunan strategis nasional (PPSN). Jadi, semua pihak harus berupaya mengatasinya agar jangan jadi bandara mangkrak.

Sikap Kami: Menjaga BIJB Kertajati

PROYEK Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati itu proyek penting. Dia masuk program pembangunan strategis nasional (PPSN). Jadi, semua pihak harus berupaya mengatasinya agar jangan jadi bandara mangkrak.

Bayangkan jika bijb kertajati “mangkrak”, misalnya. Duit Rp2,7 triliun dihabiskan untuk pembangunannya. Proyek lainnya, pembangunan kawasan Rebana juga bisa terseret-seret. Yang rugi adalah rakyat. Rakyat Indonesia, rakyat Jawa Barat. Kalau pemerintah, paling tercoreng muka saja. Dalam banyak kesempatan, kondisi itu kadang-kadang biasa bagi mereka.

Karena itu, bijb kertajati mesti dijaga. Tidak hanya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, juga pemerintah pusat dengan berbagai perangkatnya. Termasuk BUMN-BUMN penerbangan yang bisa memanfaatkannya.

Kita paham, salah satu tuntutan terhadap BUMN adalah bagaimana menghasilkan profit, keuntungan. Tapi, itu bukan satu-satunya. Sejak awal pencetusannya, BUMN adalah badan usaha pelat merah yang juga dimaksudkan untuk membangkitkan ekonomi secara keseluruhan. Jadi, tak bisa hanya memikirkan dirinya sendiri.

Dalam konteks itu, BUMN penerbangan semestinya juga ikut berperan dalam menghidupkan bijb kertajati. Kehadirannya bisa menghadirkan dampak multidimensi terhadap pertumbuhan ekonomi negara, bahkan jika BUMN itu tak mendapatkan untung sekalipun.

Patut kita sayangkan jika apa yang dikeluhkan Pj Gubernur Jawa Barat, bey machmudin, jika maskapai penerbangan pelat merah seperti garuda Indonesia, seperti “mengabaikan” bijb kertajati.

Rencana mereka untuk terbang ke sejumlah kota dari Bandara Halim, tentu saja menjadi pilihan bisnis. Tapi, sekali lagi, BUMN bukan semata bisnis. Dia juga harus jadi pelopor, pengungkit, dan bahkan pendongkrak ekonomi.

Langkah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang merespon curhatan Bey, hemat kita, adalah langkah yang tepat. Menteri Budi memerintahkan Angkasa Pura II untuk menghentikan keinginan garuda membuka rute baru dari Halim ke tiga kota karena potensi yang besar untuk membuat bijb kertajati seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

garuda perlu berperan serta dalam pengembangan bijb kertajati, bukan menghadirkan persaingan yang bisa mematikan bandara kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu.

Karena itu, sepatutnya pula sebagai BUMN, maskapai penerbangan tersebut ikut memikirkan peran dan keberadaan bijb kertajati. Bahkan dalam bisnis yang bebas sekalipun. Sebab, garuda bukan sekadar perusahaan biasa. Dia adalah perusahaan yang didirikan negara untuk ikut mengungkit ekonomi di berbagai wilayah di Tanah Air. (*)


Editor : Zulfirman