Sikap Kami: PMK

PENYAKIT mulut dan kuku (PMK) sudah masuk ke Jawa Barat. Saatnya Dinas Peternakan dan otoritas terkait untuk bergerak lebih cepat. Agar tak jadi wabah. Agar peternak bisa diselamatkan.

Sikap Kami: PMK
Pemeriksaan ternak sapi dari ancaman penyakit PMK. (Antara)

PENYAKIT mulut dan kuku (PMK) sudah masuk ke Jawa Barat. Saatnya Dinas Peternakan dan otoritas terkait untuk bergerak lebih cepat. Agar tak jadi wabah. Agar peternak bisa diselamatkan.

Salah satu daerah yang sudah terjangkit PMK adalah Kabupaten Karawang. Di sini, diketahui, sudah ada 42 hewan ternak yang terkena PMK. Dalam sebulan terakhir, lima ekor di antaranya sudah mati.

Jawa Barat memang bukan daerah yang sudah mandiri dengan ternak, dalam hal ini sapi atau kambing. Sebagian kebutuhan daging di Jawa Barat masih didatangkan dari daerah lain.

Jawa Barat bahkan tak termasuk 10 besar daerah penghasil sapi terbanyak, misalnya. Kambing pun Jabar bukan penghasil utama, meski Tanah Pasundan juga kuat dengan peternakan domba.

Setiap menjelang Idul Adha, misalnya, ternak-ternak dari luar daerah menyerbu Jawa Barat. Biasanya, saat itulah pemeriksaan intensif terhadap ternak yang masuk, dilakukan. Salah satunya adalah menyangkut PMK ini.

PMK memang penyakit yang berbahaya bagi ternak. Dia muncul akibat virus RNA yang masuk dalam genus apthovirus. Virus itu bisa merusak jaringan sel pada hewan ternak yang terinfeksi. Sialnya, belum ada pengobatan yang bisa diberikan untuk mengatasinya.

Hewan ternak yang terserang PMK, bisa sembuh dengan sendirinya setelah 14-21 hari. Tapi, itu bagi yang memiliki daya tahan kuat. Kalaupun sembuh, maka potensi penyebaran virusnya pun tetap masih kuat. Dia bisa menyebar melalui cairan lepuh dan air liur.

Maka, salah satu cara terbaik untuk meredamnya, adalah dengan menangkal persebaran virus. Biasanya, dengan mengasingkan ternak yang terkena virus di kandang khusus sehingga tak menyebar ke yang lainnya.

Kenapa pergerakan virus ini harus diredam di Jabar, alasannya sedikitnya ada tiga. Pertama, penyakit PMK potensial melucuti produksi susu sapi, sektor di mana Jabar termasuk unggul.

Kedua, keberadaan hewan ternak perlu dijaga karena dalam hitungan 3-4 bulan ke depan, dia akan sangat dibutuhkan menjelang Idul Adha. Ketiga, ternak bisa menyukseskan program makan bergizi gratis (MBG), baik sukses bagi pelajar maupun pengelola peternakan.

Karena itulah, Dinas Peternakan di Jawa Barat dan daerah-daerah, perlu bergerak cepat mengatasi persoalan ini. Perlu mensosialisasikan kepada peternak bagaimana upaya meredam persebaran virus penyebab PMK. Perlu melakukan vaksinasi. Perlu untuk kian intensif memetakan wilayah mana saja yang persebaran ternak terinfeksi virus tersebut sudah mulai masif. (*)


Editor : Zulfirman