Sikap Kami: Prabowo Tanpa Pilihan

SATU hal pasti, Prabowo Subianto menghormati para pendahulunya. Bisa jadi, itu karena didikan militer yang melekat pada dirinya. Sehingga saat HUT Gerindra, dia tetap memuji pendahulunya, Joko Widodo.

Sikap Kami: Prabowo Tanpa Pilihan

SATU hal pasti, Prabowo Subianto menghormati para pendahulunya. Bisa jadi, itu karena didikan militer yang melekat pada dirinya. Sehingga saat HUT Gerindra, dia tetap memuji pendahulunya, Joko Widodo.

Padahal, kesulitan yang sedang dihadapi pemerintahannya saat ini, salah satunya karena “ulah” Jokowi. Utang negara yang melambung tinggi, membuat ruang fiskal negara jadi kian sempit. Maka, program efisiensi yang dia lakukan, adalah sebuah keniscayaan.

Di depan Prabowo –sebagai lawan tandingnya di Pilpres 2014, Jokowi seperti menggampangkan persoalan. Dia menyatakan takkan menambah utang lagi. Salah satu pernyataan fenomenal Jokowi –tapi ternyata omon-omon, adalah uang kita banyak, untuk apa berutang.

Faktanya, utang pemerintah di era Jokowi ugal-ugalan. Saat menerima tongkat estafet dari Susilo Bambang Yudhoyono, Jokowi dan pemerintahannya mewarisi utang Rp2.608 triliun. Setelah dia selesai tahun 2024? Hingga Juni, utang pemerintah sudah Rp8.44,87 triliun. Naik hampir empat kali lipat. Belum lagi utang negara melalui BUMN.

Polanya memang beda. SBY menekan utang, setidaknya berdasarkan PDB, Jokowi memperlebarnya kembali. Saat SBY mulai memimpin, rasio utang kita adalah 53,16%, ditekan sampai 24,68%. Di era Jokowi? Dari 24,68% naik menjadi 39,13%.

Untuk apa Jokowi berutang? Rerata pembangunan infrastruktur. Sebagian proyek mercusuar. Itu terbukti dari 10 tahun kepemimpinannya, pertumbuhan ekonomi tak pernah bisa mencapai target yang disemburkannya saat debat pilpres.

Kondisi itulah yang menyulitkan pemerintahan Prabowo saat ini, diakui atau tidak. Tahun ini saja, Rp800,33 triliun harus dibayarkan untuk utang jatuh tempo. Artinya, 26,6% pendapatan negara tahun ini hanya untuk bayar utang.

Ditambah program-program unggulannya yang berbiaya besar, salah satunya makan bergizi gratis, Prabowo kini berada dalam posisi terjepit dalam hal anggaran. Maka, satu-satunya jalan tak lain tak bukan adalah efisiensi di berbagai hal. Itu situasi yang tak bisa terelakkan. Dan, sepanjang pendapatan tak naik signifikan, situasi ini akan dihadapi sepanjang pemerintahannya lima tahun ke depan.

Tapi, begitulah Prabowo. Dia tak hendak menyalahkan masa lalu. Dia tetap memuji Jokowi meski kebijakan pendahulunya itu, secara faktual, membuatnya berada dalam posisi sulit. Bergerak mengelola negara di bawah timbunan utang yang sudah harus mulai dibayar. (*)


Editor : Zulfirman