Situs Plangon Menyimpan Peran Ekologis, Tokoh Budaya Kabupaten Cirebon Ini Khawatir Marak Pembangunan Kawasan Hutan
Situs Plangon di Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, selama ini dikenal luas sebagai kawasan religi yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Namun di balik makam para wali dan keberadaan kawanan monyet liar, Plangon sesungguhnya menyimpan peran ekologis yang jauh lebih besar dan kini berada dalam ancaman.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Situs Plangon di Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, selama ini dikenal luas sebagai kawasan religi yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Namun di balik makam para wali dan keberadaan kawanan monyet liar, Plangon sesungguhnya menyimpan peran ekologis yang jauh lebih besar dan kini berada dalam ancaman.
tokoh budaya Kabupaten Cirebon, Raden Chaidir Susilaningrat memaparkan, kawasan Plangon tidak bisa dipandang sebalah mata karena ditempat itu ada dua makam yang dikeramatkan. Di kawasan tersebut terdapat makam dua tokoh penyebar Islam, yakni Syeh Syarief Abdurrahman atau Pangeran Panjunan serta Syeh Syarief Abdurrahim yang dikenal sebagai Pangeran Kejaksan.
"Plangon ini bukan hanya situs makam wali, tetapi juga kawasan hutan yang memiliki fungsi ekologis sangat penting. Ini daerah resapan air yang harus dilindungi dan dilestarikan,” ujar Chaidir, Selasa 20 Januari 2026.
Dia menilai, dengan luas kawasan mencapai lebih dari 40 hektare, hutan Plangon menjadi habitat alami bagi ratusan kera atau monyet serta berbagai jenis tanaman endemik. Menurut Chaidir, keberlangsungan ekosistem tersebut membutuhkan perhatian dan kepedulian dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat, maupun pihak terkait lainnya.
"Jangan sampai ekosistem di wilayah ini terganggu. Karena sekalinya terganggu maka akan menggerus ekosistem yang lainnya," jelasnya.
Ia mengaku khawatir dengan adanya aktivitas pembangunan di kawasan hutan yang bersebelahan langsung dengan habitat monyet Plangon. Pembangunan tersebut dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan alam dan memaksa satwa liar kehilangan ruang hidupnya.
"Kalau habitatnya terus terganggu lama-lama monyet-monyet ini bisa punah. Saat ini jumlahnya masih lebih dari 100 ekor, tapi itu bisa berkurang drastis jika tidak dijaga,” akunya
Chaidir juga mengungkapkan, kawasan hutan Plangon yang kini dikenal sebagai destinasi wisata monyet merupakan tanah wewengkon milik Keraton Kanoman. Namun dia menduga, pihak keraton belum sepenuhnya mengetahui adanya aktivitas eksploitasi di area yang berbatasan langsung dengan hutan lindung tersebut.
"Ini perlu menjadi perhatian serius. Jangan sampai warisan budaya, spiritual, sekaligus ekologis ini rusak karena kurangnya pengawasan dan koordinasi,” pintanya.
Dia menambahkan, saat ini Situs Plangon berada di persimpangan, antara pelestarian dan eksploitasi. Tanpa langkah perlindungan yang tegas, kawasan yang selama ini menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan sejarah itu terancam kehilangan jati dirinya.***
Editor : JakaPermana


