TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
INILAH, Bandung - Setiap hari, sampah dari rumah-rumah warga Bandung terus bergerak menuju tempat pembuangan akhir. Persoalannya, Kota Bandung tidak memiliki TPA sendiri dan masih bergantung pada fasilitas milik pemerintah provinsi.
Ketergantungan itu membuat urusan sampah tidak pernah benar-benar sederhana. Ketika Sarimukti masih menjadi tumpuan dan Legok Nangka belum selesai dibangun, Bandung harus mencari jalan lain agar sampah tidak terus berakhir di tempat penimbunan. Salah satu jalan itu kini disiapkan di Gedebage.
Pemerintah Kota Bandung menargetkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sirkular (TPOS) Gedebage dapat rampung dan mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 300 ton sampah per hari.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pembangunan fasilitas itu menjadi salah satu terobosan yang disiapkan untuk menjawab persoalan sampah kota.
“Dalam hal ini, kami akan membangun satu fasilitas pengolahan sampah dengan menggunakan sebuah teknologi yang baru,” ujar Farhan dalam keterangan yang diterima di Bandung, Minggu (23/8).
Lokasi Gedebage dipilih setelah Pemkot Bandung bersama pihak terkait melakukan survei dan menilai kawasan tersebut layak menjadi lokasi fasilitas pengolahan sampah.
Pembangunannya dilakukan melalui kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Bagi Bandung, fasilitas pengolahan sampah baru bukan sekadar proyek tambahan. Ada waktu yang sedang dikejar.
Kota ini menjadi satu-satunya ibu kota provinsi di Indonesia yang tidak memiliki TPA sendiri. Selama ini, sampah Bandung bergantung pada TPA milik pemerintah provinsi, termasuk Sarimukti dan nantinya Legok Nangka.
“Terus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA yang dibangun oleh provinsi, baik yang di Sarimukti maupun yang sekarang sedang dibangun di Legok Nangka,” kata Farhan.
Legok Nangka masih membutuhkan waktu sebelum dapat digunakan. Sementara itu, sampah Bandung tidak berhenti diproduksi.
Farhan menyebut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah memberikan pekerjaan rumah kepada pemerintah kota untuk menyiapkan solusi selama masa tunggu tersebut.
“Waktu itu, Pak Gubernur memberikan pekerjaan rumah. Sambil menunggu tiga tahun Legok Nangka jadi, kalian bisa bikin apa? Nah, ini salah satu terobosan yang kami lakukan,” ujarnya.
(gin)
Editor : Inilahkoran

