TPPAS Lulut Nambo Dikebut Jadi BLUD, Pemprov Jabar Genjot Kapasitas 4 Kali Lipat

Di tengah proses pengalihan aset dan pembenahan kelembagaan, operasional TPPAS Lulut Nambo mulai digenjot, target peningkatan kapasitas hingga empat kali lipat.

TPPAS Lulut Nambo Dikebut Jadi BLUD, Pemprov Jabar Genjot Kapasitas 4 Kali Lipat
Di tengah proses pengalihan aset dan pembenahan kelembagaan, operasional TPPAS Lulut Nambo mulai digenjot, target peningkatan kapasitas hingga empat kali lipat./dokumen INILAHKORAN

INILAHKORAN.ID - Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat membenahi krisis tata kelola sampah regional memasuki fase krusial. Di tengah proses pengalihan aset dan pembenahan kelembagaan, operasional TPPAS Lulut Nambo mulai digenjot, dengan target peningkatan kapasitas hingga empat kali lipat.

Fasilitas pengolahan sampah regional di Kabupaten Bogor itu sudah beroperasi sejak Oktober 2025 dan menerima kiriman 50-60 ton sampah per hari. Namun angka tersebut masih jauh dari ambisi besarnya sebagai simpul utama pengolahan sampah untuk Bogor Raya dan sekitarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar, Ai Saadiyah Dwidaningsih mengakui, saat ini Lulut Nambo masih dalam fase transisi pengalihan aset dari PT Jabar Bersih Lestari, anak usaha BUMD PT Jasa Sarana ke DLH Jabar.

"Kami sedang kebut semua penyerahan aset, karena ini harus melibatkan akuntan publik. Jadi sedang proses lelang, nanti setelah itu akan full menjadi Pemprov. Kami juga sedang mendorong dari UPTD PSTR jadi BLUD, targetnya Juni (2026) sudah selesai," ujar Ai, Rabu 25 Februari 2026.

Perubahan status menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dinilai penting, agar fleksibilitas pengelolaan keuangan dan operasional meningkat, sekaligus mempercepat respons terhadap persoalan teknis di lapangan.

Di tengah transisi administratif, DLH Jabar tidak menunggu proses rampung. kapasitas pengolahan yang saat ini berada di kisaran 50 ton per hari akan didorong menjadi 200 ton per hari dalam waktu dekat.

Strateginya adalah penyewaan alat pengolahan tambahan melalui skema e-katalog. Instalasi ditargetkan memakan waktu satu hingga tiga bulan sebelum kapasitas benar-benar melonjak.

"Kami mulai meningkatkan kapasitas dari 50 ton menjadi 200 ton. Kami sewa alat, beberapa mitra sekarang lagi proses e-katalog. Setelah itu ada instalasi sekitar satu sampai tiga bulan, lalu bisa ada peningkatan," ucapnya.

Langkah ini menjadi krusial mengingat Lulut Nambo melayani sampah dari Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok hingga Tangerang Selatan. Tanpa peningkatan kapasitas, potensi tekanan distribusi sampah di kawasan aglomerasi semakin besar.

Sisi lain, Pemprov Jabar juga tengah menyusun kalkulasi ulang kapasitas ideal Lulut Nambo. DLH menggandeng Institut Teknologi Bandung untuk melakukan feasibility study atau studi kelayakan.

Secara desain, Lulut Nambo diproyeksikan mampu mengolah 1.800 hingga 2.300 ton sampah per hari. Namun proyeksi itu kini diselaraskan dengan rencana Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya agar tidak terjadi defisit pasokan bahan baku.

"Jadi kami lihat nanti karena kan nanti ada PSEL Bogor. Jadi yang efektif untuk Lulut Nambo di 1.800 ton atau berapa kapasitasnya. Tujuannya agar sampahnya tidak defisit, karena ada PSEL Bogor Raya juga," katanya.***


Editor : JakaPermana