Trotoar Gasibu dan Langkah yang Terhalang
TROTOAR semestinya menjadi ruang paling aman bagi pejalan kaki. Namun, akses menuju trotoar di kawasan Gasibu justru menyisakan persoalan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh:Yuliantono
Langkah pejalan kaki seharusnya sederhana. Dari badan jalan, menapaki trotoar, lalu melanjutkan perjalanan dengan aman. Namun, jalur penyeberangan dari arah Monumen Perjuangan (Monju) menuju kawasan Gasibu, Kota Bandung, justru menghadirkan persoalan lain.
Perbedaan ketinggian antara badan jalan dan trotoar membuat akses terasa tidak ramah. Bagi sebagian orang mungkin hanya soal satu langkah. Namun bagi penyandang disabilitas, lansia, atau mereka yang membawa anak, perbedaan ketinggian itu bisa menjadi penghalang.
Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian publik setelah kondisi trotoar di kawasan Gasibu ramai diperbincangkan di media sosial. Foto dan video yang beredar memunculkan satu pertanyaan sederhana: untuk siapa trotoar itu dibangun?
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun ikut menyoroti persoalan tersebut. Ia mengakui akses penyeberangan dari arah Monju menuju Gasibu memang perlu diperbaiki.
Dedi meminta Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Jabar Agung Wahyudi segera melakukan evaluasi. Menurutnya, perpindahan dari badan jalan menuju trotoar tidak semestinya dilakukan dengan satu lompatan ketinggian.
"Mengenai zebra cross yang dari arah Monju ke Gasibu, itu saya melihat memang terlalu tinggi dan saya sudah meminta Kepala PU (DBMPR) untuk melakukan evaluasi dengan membuat undakan, sehingga naiknya ada trap-nya dari jalan ke trotoar, dan dibuatkan jalur untuk penyandang disabilitas," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (30/8/2026).
Bagi Dedi, persoalan tersebut bukan semata soal bentuk atau tampilan trotoar. Ada keselamatan pejalan kaki yang harus menjadi pertimbangan utama.
Trotoar yang baik bukan hanya terlihat rapi ketika dipandang. Ia harus bisa dilalui siapa saja. Tidak boleh ada bagian yang membuat seseorang harus berpikir dua kali hanya untuk naik ke jalur pejalan kaki.
Karena itu, evaluasi juga diarahkan pada penyediaan akses bagi penyandang disabilitas. Undakan atau trap akan dibuat agar perbedaan ketinggian tidak terlalu mendadak, sekaligus menyediakan jalur yang lebih mudah diakses.
Namun, persoalan trotoar tidak berhenti pada soal tinggi dan rendahnya permukaan. Setelah dibangun dan diperbaiki, ruang tersebut juga harus dikembalikan kepada fungsi awalnya: menjadi tempat berjalan.
Dedi mengingatkan agar trotoar tidak berubah menjadi ruang untuk kepentingan lain. "Dengan satu catatan, trotoar itu untuk pejalan kaki. Bukan untuk pedagang, bukan untuk pemotor, maupun bersepeda," tegasnya.
Pesan itu menempatkan pejalan kaki sebagai pengguna utama trotoar. Termasuk mereka yang selama ini kerap membutuhkan perhatian lebih dalam desain ruang publik: penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, hingga masyarakat yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Dedi pun menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul. "Hatur nuhun semuanya, mohon maaf atas ketidaknyamanan," ucapnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

