Viral Kayu Gelondongan saat Banjir di Sumatera, UAS Kritik Keras Pelaku Pembalakan Liar
UAS ikut menyoroti terkait bencana yang terjadi di Sumatera, salah satunya soal video kayu gelondongan yang viral.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Pendakwah ternama Ustadz Abdul Somad (UAS) kembali menarik perhatian publik setelah menyampaikan kritik tajam terkait kerusakan lingkungan dan bencana alam di Indonesia.
Dalam sebuah Tabligh Akbar bertajuk Risalah Islam untuk Perdamaian Dunia, UAS menegaskan bahwa pelaku pembalakan hutan liar yang menyebabkan banjir bandang adalah pihak yang “lebih jahat dari Israel”.
Pernyataan tersebut disampaikan UAS dalam ceramah yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Ustadz Abdul Somad Official, di mana mayoritas materi membahas dukungan untuk Palestina dan Gaza. Namun, UAS tiba-tiba mengalihkan pembahasan pada peristiwa banjir bandang yang membawa material kayu dari hulu sungai.
Kayu Gelondongan yang Turun Saat Banjir Jadi Sorotan
Dalam ceramahnya, UAS menyoroti fenomena banjir yang tidak hanya menghanyutkan air, tetapi juga gelondongan kayu yang diduga berasal dari pembalakan liar.
“Yang turun dari gunung bukan sekadar air, tapi kayu. Allah tak pernah menurunkan kayu. Kayu hidup tidak mungkin hanyut kecuali sudah ditebang,” ujarnya dengan tegas.
Ia menekankan bahwa keberadaan kayu-kayu besar yang terbawa arus menjadi bukti kuat aktivitas illegal logging di area hulu, yang memperparah intensitas banjir bandang.
Puncak perhatian terjadi saat UAS membandingkan pelaku perusakan hutan dengan Israel, entitas yang selama ini menjadi sorotan umat Islam dunia.
“Yang menebang kayu secara ilegal itu lebih jahat dari Israel,” katanya lantang.
UAS menilai bahwa tindakan pembalakan liar bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak kehidupan masyarakat luas dan mengancam keselamatan banyak orang.
UAS turut mengaitkan bencana alam dengan peringatan Allah SWT bagi manusia yang lalai menjaga amanah bumi. Ia menyebut bahwa kerusakan lingkungan seringkali terjadi akibat keserakahan dan penyalahgunaan harta.
Bahkan, UAS menegaskan dirinya menolak menjadi imam salat istisqa (salat meminta hujan) apabila para pelaku pembakar dan perusak hutan ikut hadir di dalamnya.
“Kalau mereka ikut salat, itu hanya jadi sandiwara,” ujarnya.
Pernyataan keras UAS ini menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan di Indonesia membutuhkan perhatian serius.
Selain mengedepankan solidaritas global, UAS juga meminta masyarakat untuk tidak melupakan ancaman nyata dari kerusakan alam dalam negeri, termasuk illegal logging yang berdampak langsung pada bencana banjir bandang.
Editor : Firda Rachmawati


