Wajah Kusam SMAN 2 Subang, Dedi Mulyadi Sebut Disiplin Lingkungan Sekolah Nol Besar
Temuan Dedi Mulyadi tidak sekadar soal fasilitas usang, tetapi menyentuh persoalan mentalitas pengelolaan SMAN 2 Subang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Inspeksi mendadak yang dilakukan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke SMAN 2 Subang membuka fakta yang mengusik. Wajah pendidikan yang seharusnya mendidik, justru gagal memberi teladan paling dasar, yakni disiplin kebersihan dan kerapian.
Temuan Dedi Mulyadi tidak sekadar soal fasilitas usang, tetapi menyentuh persoalan mentalitas pengelolaan SMAN 2 Subang. Pos jaga tampak kotor, pakaian tergantung sembarangan, hingga lingkungan sekolah yang terlihat kumuh.
"Ini pos jaga. Ini lembaga pendidikan, bukan? anak-anak harus diajarin bagaimana hidup berpendidikan. Dari mulai cara masuk, cara duduk, cara keluar, dan estetika di lingkungan," tegur Dedi Mulyadi kepada penjaga sekolah dikutip dari akun media sosialnya, Kamis (2/4/2026).
Kritik itu tak berhenti pada kondisi fisik. Dedi menilai ada kegagalan dalam membangun kesadaran kolektif di lingkungan sekolah. Padahal, kepala sekolah telah memimpin selama empat tahun, namun perubahan signifikan tak terlihat.
Bahkan, ia mengaku sempat turun tangan sendiri memperbaiki fasilitas umum di sekitar sekolah karena minimnya inisiatif dari pihak internal.
"Itu yang beresin siapa? Halte. Saya yang ngecat sendiri pak," kata Dedi kepada kepala sekolah.
Menurutnya, pendidikan yang hanya berfokus pada akademik tanpa membangun kepekaan terhadap lingkungan adalah kegagalan yang nyata. Sekolah, kata dia, seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar tempat belajar teori.
"Dengan saya jangan suka nyanggah, akui sebuah kesalahan, kalau kumuh ya kumuh. Sekolah itu ngajarin peka pada lingkungan, menginisiatif, bergerak," katanya.
Dedi menegaskan, keberhasilan pendidikan harus diukur dari output yang lebih luas, yakni manusia yang peduli, responsif, dan memiliki inisiatif terhadap lingkungan sekitar.
"Jadi pendidikan outputnya bukan hanya akademik. Outputnya adalah orang-orang yang peka terhadap lingkungan. Agar kita menang dalam pertarungan. Jadi jangan terus bantau-bantau sekolah paling benar," tandasnya.***
Editor : Bsafaat


