Wisata Religi Dominasi Libur Lebaran 2026, Masjid Raya Al-Jabbar Salip Pangandaran
Saat ini, di Jabar wisata religi justru mendominasi arus kunjungan. Masjid Raya Al-Jabbar mencatat sekitar 300 ribu pengunjung selama periode 17-25 Maret 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Peta destinasi favorit wisatawan di Jawa Barat selama libur Idulfitri 2026 berubah drastis. Kini, wisata religi justru mencuri perhatian dan mendominasi arus kunjungan.
Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Masjid Raya Al-Jabbar mencatat sekitar 300 ribu pengunjung sepanjang 17-25 Maret 2026. Angka ini melampaui Pantai Pangandaran yang mencapai 263 ribu wisatawan, serta Pantai Batu Karas dengan 99 ribu kunjungan.
Kepala Disparbud Jabar Iendra Sofyan menilai, lonjakan wisata religi k eMasjid Raya Al-Jabbar tersebut tidak lepas dari nuansa Ramadan hingga Lebaran yang mendorong masyarakat memilih destinasi bernilai spiritual.
"Ya itu memang ada faktor tadi metode perhitungannya yang kedua keaktifan dari melapornya. (Itikaf) juga dan ngabuburit juga mempengaruhi, kan sudah mulai libur tuh," ujar Iendra di Gedung Sate, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, pola kunjungan memang berubah saat periode hari besar keagamaan. Aktivitas ibadah seperti iktikaf dan tradisi ngabuburit membuat masjid besar menjadi magnet utama.
"Kami akui kalau liburan ritual seperti ini catatan yang kami dapat memang paling banyak di Masjid Al-Jabbar. Jadi 10 hari karena memang sebelum lebaran sedikit yang wisata, tapi satu hari sebelum lebaran itu sudah mulai banyak. Puncaknya adalah hari ketiga jadi grafik kita tuh di hari ketiga baik hotel maupun tempat wisata itu paling banyak," ucapnya.
Meski demikian, Iendra mengingatkan angka kunjungan tersebut masih sangat bergantung pada metode pencatatan masing-masing pengelola destinasi. Ia membuka kemungkinan adanya selisih data di lapangan.
"Masalah data ini memang banyak faktor yang pertama adalah kesiapan dari metodenya mereka menghitung, sebetulnya kan mudah dengan tiket hanya mereka itu memang dibedakan antara yang berkunjung dengan menghitung pajak," katanya.
Dia menambahkan, keunggulan sistem penghitungan berbasis sensor di Masjid Al-Jabbar membuat data kunjungan lebih akurat dan terlaporkan secara konsisten.
"Yang kedua adalah namanya keaktifan dari para pengelola untuk menyampaikan, itu tiap hari kita dorong dan saya pikir Al-Jabbar counting-nya kan dengan metode sensor sehingga mereka lebih canggih," tuturnya.
Sisi lain, lonjakan wisatawan ke destinasi populer juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait kapasitas daya tampung atau carrying capacity. Kawasan pantai seperti Pangandaran dinilai perlu pembatasan untuk menghindari kepadatan berlebih.
"Pangandaran saya yakin anggaplah itu 70 persen data yang masuk, tapi saya kira sudah mewakili. Bahkan sebetulnya kalau 100 persen itu yang kita khawatirkan, Itu polanya disebut dengan carrying capacity. Jadi kita harus peduli dengan kapasitas yang ada," ungkapnya.
"Nah, kayak Pangandaran sebetulnya harusnya mah ditahan jangan terlalu banyak . Nah, ini kan dampaknya tidak hanya mau buat wisatawan, yang kedua buat pengawas juga pusing," imbuhnya.
Perubahan tren ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata untuk menyesuaikan strategi. Penguatan wisata religi, peningkatan manajemen pengunjung, serta pembenahan sistem pendataan menjadi kunci agar sektor pariwisata Jawa Barat tetap kompetitif dan berkelanjutan.
Editor : Doni Ramdhani


