3,8 Juta Penumpang dan Asa yang Kembali Mengudara

HUSEIN Sastranegara kembali berdenyut. Bersama pesawat yang pulang, asa konektivitas dan ekonomi Bandung kembali tumbuh.

3,8 Juta Penumpang dan Asa yang Kembali Mengudara
DISAMBUT ANTUSIAS: Kembalinya Garuda Indonesia di Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung disambut antusias para penumpang. Rute Denpasar-Bandung dan Bandung-Denpasar berlangsung Jumat 14 Agustus 2026.

Oleh: Gin Gin T.Ginulur

Siang itu, langit Bandung seperti membuka kembali pintu yang sempat lama tertutup. Koper-koper kembali ditarik menuju terminal, penumpang hilir mudik, dan pesawat jet menyentuh landasan Bandara Internasional Husein Sastranegara.

Setelah hampir tiga tahun tak melayani penerbangan komersial dengan pesawat jet, Husein kembali berdenyut, 14 Agustus 2026. Garuda Indonesia membuka kembali layanan penerbangan rute Denpasar-Bandung menggunakan Boeing 737-800 NG yang membawa 162 penumpang.

Kedatangan pesawat itu disambut water salute. Semburan air dari kendaraan pemadam kebakaran membentuk gerbang penyambutan, menjadi penanda penerbangan jet komersial kembali hadir di tengah Kota Bandung.

Namun, yang kembali bukan sekadar pesawat. Ada harapan agar Bandung kembali terhubung lebih dekat dengan berbagai kota di Indonesia dan mancanegara.  Ada pula asa agar geliat wisata, pendidikan, perdagangan, hingga investasi kembali mendapatkan dorongan dari konektivitas udara.

Husein Sastranegara bukan nama baru bagi perjalanan Bandung. Bandara yang berdiri sejak 1921 itu pernah menjadi salah satu pintu utama menuju Kota Bandung, baik bagi wisatawan maupun mahasiswa dari berbagai daerah.

Pada 2019, sebelum pandemi Covid-19, bandara tersebut bahkan mampu melayani sekitar 3,8 juta penumpang dalam setahun. Sekitar satu juta di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura.

Namun, penerbangan komersial kemudian dihentikan pada 29 Oktober 2023. Sejumlah rute dialihkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka.

Perpindahan itu diharapkan membuat Kertajati menjadi pintu udara utama Jawa Barat. Namun, lalu lintas penumpang belum sepenuhnya seperti yang diharapkan.

Di tengah kondisi tersebut, suara untuk menghidupkan kembali Husein terus terdengar. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjadi salah satu yang paling lantang mendorong agar bandara tersebut kembali melayani penerbangan komersial dengan jangkauan lebih luas.

Harapan itu semakin menguat setelah Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Bandung pada 25 Mei 2026. Farhan menyebut Presiden menginginkan Husein kembali membuka penerbangan domestik dan internasional.

"Kita ingin mengembalikan kejayaan Bandara Husein yang di tahun 2019 traffic-nya itu sekitar 3,8 juta orang,” kata Farhan.

Gayung bersambut. InJourney Airports mencatat enam maskapai mengajukan permohonan penerbangan berjadwal menggunakan pesawat jet dari Husein.

Citilink, Super Air Jet, Garuda Indonesia, TransNusa, Scoot, dan Wings Air masuk dalam daftar. Rute yang direncanakan pun membentang dari Denpasar, Kualanamu, Surabaya, Pekanbaru, Makassar, Batam, Padang, Balikpapan, Pontianak, Lampung, hingga Palembang. Konektivitas internasional juga kembali dibidik melalui Kuala Lumpur, Johor Bahru, dan Singapura.

Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan mengatakan kembalinya Garuda ke Bandung bukan hanya soal penerbangan, tetapi bagian dari upaya membangun jaringan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Momentum ini bukan hanya menandai kembalinya Garuda Indonesia mengudara dari Bandung, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi kinerja kami dalam membangun jaringan penerbangan yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki fundamental bisnis yang sehat,” ujar Glenny.

Bagi penumpang, kembalinya penerbangan dari Husein membawa arti yang jauh lebih personal. Santi, salah seorang penumpang penerbangan perdana Garuda menuju Bandung, mengaku bahagia akhirnya bisa kembali mendarat langsung di kampung halamannya.

“Senang ya. Kita sudah tiga tahun enggak pulang. Saya sampai ingin teriak. Happy banget,” katanya.

Selama penerbangan dialihkan, perjalanan menuju Bandung menjadi lebih panjang. Pesawat yang mendarat di Cengkareng masih harus dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Bandung.

“Kalau dari Jakarta lumayan lama, sekitar tiga sampai empat jam. Mending langsung ke Bandung,” ujar Santi.

Bagi warga dan wisatawan, konektivitas semacam itu bukan sekadar persoalan kenyamanan. Ia menentukan seberapa mudah orang datang, tinggal, berusaha, belajar, dan menghabiskan uang di sebuah kota.

Bandung punya banyak alasan untuk didatangi: wisata alam dan budaya, kuliner, fesyen, ekonomi kreatif, pendidikan, hingga berbagai agenda olahraga dan hiburan.

Kembalinya penerbangan jet juga datang ketika ekonomi Bandung tengah berusaha menjaga momentumnya.

Sepanjang semester I 2026, realisasi investasi Kota Bandung mencapai sekitar Rp6,4 triliun. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih menjadi penyumbang terbesar dengan porsi sekitar 82 persen, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) sekitar 15 persen.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Bandung Eric Mohamad Atthauriq mengatakan angka tersebut menunjukkan tren peningkatan dari triwulan I ke triwulan II.

“Alhamdulillah, tren realisasi investasi Kota Bandung relatif meningkat dari triwulan I ke triwulan II atau semester I. Posisi sekarang sekitar Rp6,4 triliun,” ujar Eric di Balai Kota Bandung, Senin (17/8). 

Pemkot Bandung menargetkan investasi sepanjang 2026 mencapai Rp11,9 triliun. Namun, ada target optimistis yang didorong hingga Rp12 triliun.

Untuk mengejarnya, pemerintah mengembangkan trilogi investasi yang terdiri atas Bandung Investment Forum, Investor Day, dan Bandung Investment Summit. Investor Day dijadwalkan berlangsung pada 19 Agustus 2026.

Pelayanan perizinan juga terus disederhanakan. Salah satunya penerbitan Surat Izin Praktik bagi tenaga kesehatan yang dipangkas dari lima lapisan menjadi dua lapisan.

Upaya tersebut ikut mengantarkan DPMPTSP Kota Bandung masuk nominasi enam kota terbaik se-Indonesia dalam kategori pelayanan terpadu satu pintu.

Menariknya, sektor real estate mulai kembali menggeliat dalam investasi PMDN semester I. Bagi Pemkot Bandung, kondisi itu menjadi salah satu sinyal bahwa aktivitas ekonomi mulai bergerak.

Di tengah upaya menarik investasi, konektivitas udara menjadi kepingan penting. Eric melihat kembali aktifnya Husein Sastranegara sebagai salah satu pengungkit aktivitas ekonomi. 

Wisatawan lebih mudah datang, pelaku usaha lebih cepat bergerak, dan investor memiliki akses yang lebih sederhana menuju Bandung.

“Transportasi dan sarana perhubungan menjadi salah satu trigger untuk peningkatan perekonomian di Kota Bandung,” katanya.

Efeknya diharapkan menjalar ke berbagai lapisan. Kuliner dan UMKM menjadi sektor yang berpotensi ikut menikmati bertambahnya arus orang.

“Sektor kuliner atau UMKM itu ikut menggeliat. Kedua, para investor juga akan lebih cepat, mudah datang, dan berkeliling ke Kota Bandung,” ujar Eric.

Status internasional Husein juga diharapkan membuka peluang lebih besar bagi masuknya investasi asing. Tetapi mengembalikan kejayaan Husein seperti 2019 tentu tidak cukup dengan satu pesawat, satu rute, atau satu seremoni penyambutan.

Pesawat Garuda yang kembali mendarat pada 14 Agustus itu baru sebuah langkah awal. Di belakangnya ada pekerjaan panjang: memastikan rute bertahan, penumpang kembali, konektivitas berkembang, dan manfaat ekonominya benar-benar mengalir ke kota. (gin)


Editor : Inilahkoran