Tak Hanya Banjir, Bangunan TK di KBB Terancam Longsor

TK/TPA Nurul Azmi selain jadi langganan banjr akibat pembanguan KCJB di Cilame juga terancam longsor

Tak Hanya Banjir, Bangunan TK di KBB Terancam Longsor
Bangunan di Cilame ini terancam longsor akibat pembangunanKCJB.

INILAHKORAN, Ngamprah - Nasib malang dialami puluhan siswa TK/TPA Nurul Azmi di kompleks Taman Bunga Cilame di Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pasalnya, sekolah tersebut kerap diterjang banjir saat musim hujan tiba. Bahkan, saat ini sekolah tersebut terancam longsor.

Kepala Sekolah TK/TPA RA Nurul Azmi, Nining Yudianti mengatakan, pihak memiliki jumlah siswa sekitar 77 siswa.

Baca Juga: Dampak Pembangunan KCJB di KBB, Siswa TK/TPA di Cilame Terpaksa Belajar di Masjid

"Siswa saya di TK/TPA itu ada sekitar 60 siswa, sementara kalau di RA ada sekitar 17 siswa," katanya kepada wartawan.

Ia mengaku, pasca diterjang bencana banjir beberapa waktu lalu, para siswa melakukan aktivitas belajar mengajar di masjid kompleks

"Sekolah di masjid sudah sekitar satu bulan lebih karena keselamatan para siswa lebih utama bagi kami," ujarnya.

Baca Juga: Warga Korban Dampak Pembangunan KCJB Datangi Kantor Desa Cilame

Ia menyebut, sebelum ada pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) itu belum pernah ada bencana seperti ini.

"Saya tinggal di kompleks tersebut sejak tahun 2004 dan belum pernah ada kejadian seperti ini," sebutnya.

Ia menuturkan, banjir yang paling dahsyat itu terjadi di 2020 dan musibah banjir ini sudah ketiga kalinya pihaknya rasakan.

"Nah, sekarang disusul dengan musibah longsornya," ujarnya.

Baca Juga: Kereta Cepat Jakarta Bandung, Warga Desa Cilame KBB Kerap Diterjang Banjir Lantaran Drainase Terhalang Tiang

Lebih jauh ia menjelaskan, PT KCIC dahulu sempat menjanjikan bahwa sistem drainase bakal diluruskan dengan memperbesar gorong-gorong sebelah bangunan sekolah.

"Janjinya bakal diperbaiki gorong-gorong diperbesar, termasuk akses jalan pun bakal diperbaiki. Tapi tidak ada hingga saat ini," jelasnya.

Bahkan, sambung dia, bangunan sekolah pun mengalami keretakan, dan tidak ada kompensasi dan perbaikan yang berarti.

Ia menyebut, aset sekolah yang rusak antara lain alat mainan edukatif, bangku, lemari, bahkan printer, termasuk dokumen-dokumen sekolah.

Baca Juga: Kereta Cepat Jakarta Bandung, Warga Desa Cilame KBB Kerap Diterjang Banjir Lantaran Drainase Terhalang Tiang

"Seragam sekolah, kalau ditotalkan dari awal 2020 kalau ditaksir sekitar Rp 50 juta. Bahkan, belum lama ini keluar lumpur dari bawah, sampai retak-retak," bebernya.

Ia menambahkan, tahun 2021 pun sempat ada perbaikan dati pengembang. Namun, tidak ada hasil yang berarti lantaran setiap hujan pun kembali banjir.

"Melihat kondisi ini, kepercayaan orang tua untuk menitipkan anak-anaknya sekolah di TK/TPA Nurul Azmi semakin berkurang," pungkasnya.*** (agus satia negara).


Editor : inilahkoran